|
Massa Punya Psikologi Sendiri
KETIKA banyak parpol yang mengerahkan massa ke KPU dan
dengan beringas menduduki kantor KPU, karena tidak lulus
kualifikasi, banyak yang mencemaskan keamanan Pemilu
2004. Apalagi saat banyak caleg yang ikut-ikutan membawa
massa berunjuk rasa ke kantor DPW atau DPP masingmasing
gara-gara nomor urutnya digusur dari nomor jadi ke nomor
tidak jadi. Langsung para pakar meramalkan, Pemilu 2004
akan berdarah-darah.
Baru Parpol dan caleg gurem saja sudah begitu beringas,
bagaimana bila yang nanti kecewa adalah parpol-parpol
besar? Bukankah pasti akan terjadi tawuran, begitu massa
dari satu parpol berpapasan dengan massa parpol lain?
Itu sudah benar-benar terjadi pada masa prakampanye di
Bali. Apakah tidak ngeri?
Di
sisi lain, sejak dulu saya tidak yakin pemilu akan
berdarah-darah. Beberapa korban pasti akan jatuh,
misalnya karena kecelakaan lalu lintas akibat
kecerobohan anggota massa sendiri (terjatuh dari truk,
tergilas roda kendaraan, dan sebagainya), atau tawuran
antarkampung yang masyarakatnya sudah musuh bebuyutan
sejak dulu, tetapi kali ini mendapat identitas parpol
berbeda. Itu wajar dan sulit dihindari dari fenomena
massal yang begitu kolosal seperti Pemilu 2004.
Namun nyatanya, sampai tulisan ini dibuat, belum ada
konflik yang signifikan, apalagi sampai mengambil korban
nyawa. Di berbagai tempat, arak-arakan berbagai parpol
bisa berpapasan. Masing-masing dengan gaya yang sama
(motor dibuka knalpotnya, kepala botak atau dicukur
dengan nomor parpol jagoannya, muka dicoreng-coreng, dan
sebagainya), hanya kaos dan bendera yang berbeda.
Pada tahun 1999 dan sebelumnya, dua kelompok massa yang
berhadapan pasti akan langsung bertempur. Tetapi kini,
paling hanya saling memberi salam, melambaikan tangan,
dan melempar senyum. Bahkan yang saya lihat sendiri di
Jakarta, beberapa sepeda motor berbendera Partai
Demokrat "terjebak" arus rombongan besar PDI-P yang
serba merah dan tidak terjadi apa-apa. Bahkan "oknum-oknum"
Partai Demokrat itu dengan santai mengikuti arus
merahnya PDI-P, sambil sesekali ngobrol dengan peserta
arak-arakan dari PDI-P yang kebetulan di sebelahnya.
Jadi, saya yang kebetulan sedang ada dalam bus way
seakan melihat lautan merah dengan riak-riak biru muda
di sana-sini.
Mengapa tidak rusuh?
Pertanyaan ini perlu dijawab dengan jelas, karena justru
kampanye damailah yang terjadi, bukan rusuh seperti
banyak diperkirakan para pakar sebelumnya.
Beberapa jawaban yang sering dilontarkan terhadap
pertanyaan ini antara lain rakyat sudah jenuh dengan
kekerasan, rakyat sudah tambah pandai dan mengerti, dan
rakyat sudah bosan dibohongi partai dan politisi busuk.
Jawaban-jawaban itu tidak salah, tetapi tidak sepenuhnya
benar. Karena, rusuh massa akhir-akhir ini melanda
hampir semua bagian dunia, termasuk negara maju yang
rakyatnya sudah lebih terdidik
Dalam Psikologi Sosial, ada teori yang menyatakan, massa
itu bersifat irasional, emosional, impulsif, agresif,
dan destruktif. Dengan kata lain, menurut teori yang
antara lain dikemukakan G Le Bon ini, suatu massa yang "jinak"
(seperti pengunjung pasar, atau penonton bioskop) bisa
tiba-tiba beringas jika ada pemicu. Inilah mungkin yang
menyebabkan para pakar tergoda menilai pemilu sebagai
pemicu yang potensial.
Meski demikian, ada satu hal yang sering luput dari
pengamatan para pengamat, yaitu tidak setiap hal (termasuk
pemilu) bisa memicu kerusuhan. Menurut teori perilaku
massa dari N Smester, misalnya, pemicu hanya salah satu
faktor, sekaligus faktor terakhir dari seluruhan enam
faktor yang menjadi prasyarat untuk terjadinya perilaku
massa.
Kelima faktor lain di luar faktor pemicu itu adalah (1)
tekanan sosial, seperti kemiskinan, pengangguran, biaya
hidup, dan pendidikan yang mahal; (2) situasi yang
kondusif untuk beraksi massa, seperti pelanggaran tidak
dihukum dan diliput media massa; (3) adanya kepercayaan
publik, dengan aksi massa situasi bisa diubah; (4)
peluang (sarana dan prasarana) untuk memobilisasi massa;
dan (5) kontrol aparat yang lemah.
Dari kelima faktor itu, yang paling tidak terpenuhi
adalah faktor keyakinan publik. Benar, aksi-aksi
mahasiswa dan pemuda membawa beberapa perubahan politik
yang amat signifikan di tahun 1908, 1928, 1945, dan
1966. Tetapi kenyataan membuktikan, sejak 1998,
aksi-aksi mahasiswa hanya bisa menjatuhkan tiga presiden
berturut-turut dalam waktu dua-tiga tahun, tanpa memberi
perubahan bermakna pada peningkatan taraf kehidupan
rakyat sendiri. Kurs dollar naik, inflasi makin parah,
bunga bank melambung, pengangguran makin banyak, dan
sebagainya. Malah perbaikan justru mulai tampak pada
zaman Presiden Megawati yang relatif stabil.
Maka, massa pun tidak percaya lagi aksi massa akan
membawa perubahan. Dengan demikian, kampanye pemilu
tidak bisa memicu kericuhan.
Pemilu 2004 berbeda
Hal lain yang kurang dicermati pengamat adalah Pemilu
2004 berbeda dari pemilu-pemilu sebelumnya. Perbedaannya
bukan hanya dalam pemilihan anggota DPD dan pemilihan
presiden langsung, tetapi keseluruhan proses pelaksanaan
yang tidak lagi dijalankan pemerintah dan aparat
keamanan saja, tetapi oleh pihak-pihak independen
nonpemerintah, khususnya Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan
Panitia Pengawas Pemilu (Panwas).
Dengan adanya anggota-anggota KPU dan Panwas, dari pusat
sampai daerah yang independen dan di-fit and proper: DPR/DPRD
sendiri, maka tidak ada yang bisa dijadikan sasaran
kemarahan massa jika terjadi sesuatu. Kedaulatan rakyat
sudah diberi kesempatan untuk melaksanakan sepenuhnya,
dan jika terjadi kesalahan dalam pelaksanaan, rakyat
sendirilah yang salah, bukan orang lain. Apalagi
pemerintahnya (dari presiden sampai menteri-menteri)
hampir seluruhnya adalah orang-orang partai belaka.
Kesadaran yang begitu tinggi, tak akan mungkin terjadi
tanpa ada keterbukaan pers yang sudah terlaksana sejak
era reformasi. Meski kadang pers kebablasan, kebebasan
pers yang sudah dipraktikkan mau tidak mau telah memberi
informasi amat banyak, dan lengkap kepada masyarakat.
Hal yang tidak pernah terjadi di era serba sensor semasa
Orde Baru.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa ramalan-ramalan tentang
rusuh massa yang bakal terjadi dalam Pemilu 2004, lebih
didasarkan paradigma lama, khususnya pada
prakiraan-prakiraan yang dikembangkan dari pemikiran dan
perasaan sendiri. Padahal, massa mempunyai pemikiran dan
perasaan berbeda. Dengan kata lain, massa punya
psikologi sendiri.
Sarlito Wirawan Sarwono Guru Besar
Psikologi UI
Sumber:
Kompas Cyber Media
|