Banyak
kegiatan di Indonesia yang terhambat -- atau malah harus terhenti -- karena adanya krisis
ekonomi yang terjadi sejak tiga tahun silam. Namun kalau kita ingat, ada satu 'kegiatan'
yang tidak terhambat krisis, yaitu perkelahian atau tawuran pelajar.
Dulu, tawuran pelajar atau mahasiswa hanya
terjadi sesekali. Itu pun sudah menjadi berita yang menghebohkan. Namun kini, kabar
mengenai tawuran pelajar hampir setiap hari kita dengar. Pada jam-jam pulang sekolah
tawuran biasa terjadi dengan mengambil tempat di jalan raya. Tak jarang tawuran dimulai
dengan teriakan dari dalam kendaraan umum -- bus atau Metro Mini -- yang kemudian
berlanjut dengan pengejaran dan pelemparan benda-benda keras.
Bukan hanya peristiwa tawurannya saja yang
menyedihkan, tetapi seringkali tawuran itu membawa korban nyawa. Kalau 'hanya' korban
cedera saja, kita mungkin masih bisa 'bersyukur', sekalipun itu bukan indikasi yang baik.
Tetapi, jika ada nyawa yang harus terenggut karena perkelahian yang tak jelas ujung
pangkalnya itu, bukankah kita patut bersedih?
Kecenderungan
Tawuran pelajar yang terjadi sekarang,
tampaknya sudah menjadi trend atau kecenderungan di kalangan pelajar. Sering para pelajar
ini -- umumnya pelajar SMU dan SMP -- memang sudah menyiapkan segala sesuatu untuk acara
tawuran itu. Buktinya, ketika aparat kepolisian berhasil menangkap beberapa pelajar yang
terlibat tawuran, di tas mereka ditemukan berbagai senjata. Mulai dari batu, cutter,
gunting, golok, hingga samurai.
Melihat itu, kita boleh jadi
bertanya-tanya, sebenarnya mereka pelajar atau bukan? Kalau pelajar, bukankah seharusnya
isi tas mereka itu buku dan alat tulis, bukan senjata tajam. Namun, jika bukan pelajar,
siapakah mereka sebenarnya? Mereka berangkat ke sekolah atau pulang dari sekolah dengan
mengenakan seragam sekolah dan menenteng tas.
Tudingan pertama kali kerap dituduhkan
kepada sekolah, baik guru maupun metode pendidikan yang diajarkan. Tetapi, kita seharusnya
lebih berlapang dada menerima kenyataan bahwa guru-guru di Indonesia, kesulitan untuk
berkonsentrasi penuh dalam memberikan pelajaran kepada para muridnya karena harus memenuhi
kebutuhan ekonomi keluarganya.
Bagi para guru itu, penghasilan dari
mengajar di satu sekolah tidaklah memadai untuk membiayai hidup sehari-hari. Mereka harus
mengajar di banyak sekolah atau memberikan berbagai jenis les bagi muridnya di luar jam
sekolah, demi memperoleh penghasilan yambahan. Bagaimana mereka bisa berkonsentrasi
memperhatikan para muridnya jika jumlah murid yang harus diajarnya banyak sekali dan
tersebar di banyak sekolah? Lantas, masih layakkah jika para guru itu juga yang harus
diminta untuk menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas kebrutalan para muridnya ?
Kemudian kita menoleh kepada sistem
pendidikan di Indonesia, kita akan segera menyadari bahwa ada yang salah dengan sistem
pendidikan kita. Pendidikan budi pekerti, yang seharusnya menjadi salah satu faktor
penting guna membentuk generasi muda harapan bangsa, justru dikesampingkan. Pendidikan
agama pun hanya sepersekian dibandingkan dengan materi pelajaran lain yang diterima
pelajar. Hasilnya, sekalipun anak-anak Indonesia boleh dibilang pintar karena materi
pelajaran yang diberikan padat dan berjejal, tetapi di sisi lain kenakalan dan kebrutalan
sikap pelajar pun dominan.
Pada bagian lain, kemajuan teknologi yang
begitu pesat telah menambah pengetahuan dan wawasan orang Indonesia -- mulai dari
anak-anak, remaja, hingga orang tua -- di berbagai bidang. Perkembangan teknologi
telekomunikasi dan informasi telah mempersempit dunia. Dalam waktu sekejap, kita bisa
mengetahui perkembangan yang terjadi di negara lain melalui internet. Dengan cepat pula,
kita bisa mengadaptasi semua itu.
Informasi di layar televisi kita juga luar
biasa. Bukan hanya informasi yang penting dan bermanfaat, banyak juga informasi yang
justru merusak. Misalnya kekerasan yang ditampilkan di film-film action dan film-film
kartun asing. Belum lagi, penayangan acara-acara untuk orang dewasa yang disiarkan pada
jam nak masih menonton televisi sehingga anak-anak pun jadi terkontaminasi pikirannya.
Pada saat yang sama, orang tua di rumah terlalu sibuk untuk menemani sang anak dalam
menyaksikan tayangan-tayangan itu.
Jadilah, tayangan-tayangan itu ditelan
mentah-mentah oleh sang anak. Diserap dengan imajinasi dan daya nalarnya sendiri. Tanpa
ada yang mengajarinya, anak pun menilai apa yang datang dari luar negeri itu selalu bagus.
Pada saat yang sama, anak-anak mempunyai daya imajinasi yang tinggi terhadap segala
sesuatu, sehingga apa pun yang dilihatnya akan 'menemani' perkembangan dan pertumbuhan
anak itu menjadi pribadi remaja dan kemudian dewasa. Dapat dibayangkan, apa jadinya
anak-anak dengan kondisi seperti itu.
Lantas, masih adilkah kita dengan menuding
bahwa gurulah yang harus bertanggung jawab atas terjadinya tawuran pelajar atau kenakalan
remaja yang lain, seperti keterlibatan dalam penggunaan obat-obatan terlarang atau
pergaulan bebas? Sistem pendidikan kita memang belum benar. Itu adalah salah satu potret
buram dunia pendidikan kita.
Namun, perkembangan anak-anak yang
dilahirkan oleh orang tuanya itu tidak bisa begitu saja diserahkan kepada lembaga yang
bernama sekolah, sekalipun ketika itu usia sang anak sudah memasuki masa sekolah. Atas
nama apa pun, anak-anak tetap menjadi tanggung jawab utama orang tuanya. Pendidikan dan
lingkungan hanyalah faktor pendukung.
Menunggu korban
Ada sementara pendapat yang mengungkapkan
bahwa kenakalan remaja -- tawuran, obat-obatan terlarang dan pergaulan bebas -- hanyalah
trend anak muda. Artinya, setiap remaja memang pasti akan mengalaminya. Seiring dengan
berjalannya waktu, dan remaja itu tumbuh menjadi manusia dewasa, perilaku ini pun akan
berubah dengan sendirinya. Ibarat siklus hidup yang sudah rutin, kalangan ini menilai
kenakalan remaja itu tidak perlu terlalu dikuatirkan.
Namun ada hal yang dilupakan oleh penganut
'teori' ini. Kemajuan zaman telah menambah pengalaman batin sang remaja, sehingga
kenakalan remaja di masa lalu bisa dikatakan berbeda dengan kenakalan remaja zaman ini.
Karena perbedaan itu maka hasil akhirnya pun berbeda.
Lihatlah, bagaimana rumah sakit kerapkali
dikirimi jenazah remaja berseragam sekolah yang menjadi korban tawuran atau karena over
dosis obat-obat terlarang. Lihat pula, betapa panti rehabilitasi bagi para pecandu narkoba
semakin penuh, pesantren-pesantren banyak didatangi orang tua yang ingin menyembuhkan
anaknya yang telah telanjur menjadi pecandu narkoba. Atau lihatlah, angka aborsi yang
tinggi yang dilakukan oleh para remaja putri. Tidakkah kita miris dengan semua kenyataan
pahit ini?
Pada bagian lain, kemajuan zaman telah pula
'mengajari' kita untuk semakin berpacu dengan waktu. Waktu adalah uang, seolah hidup ini
hanya untuk mencari materi semata. Seakan-akan materi merupakan hal paling penting dalam
hidup manusia. Anak-anak yang dilahirkan dengan susah payah -- bahkan telah direncanakan
dengan sangat matang oleh para orangtuanya -- pun terabaikan gara-gara orang tuanya
terlalu sibuk mengejar materi.
Anak-anak dititipkan kepada baby sitter,
pembantu, sekolah-sekolah mahal maupun lembaga-lembaga pendidikan yang memberikan berbagai
les, mulai dari les musik hingga latihan bela diri. Tidak heran jika anak-anak tumbuh
menjadi pribadi yang kerapkali tidak dikenali oleh orangtuanya. Setelah terjadi sesuatu
yang buruk pada sang anak, barulah orangtua terhenyak. Tetapi, kadang-kadang kenyataan
pahit harus ditelan, anak terlambat untuk ditolong. Nasi sudah menjadi bubur dan
penyesalan pun tidak berguna.
Tampaknya kita memang harus mengalami
banyak contoh dulu untuk sampai pada kesimpulan bahwa generasi penerus yang baik merupakan
tanggung jawab utama para orang tua. Dan, kini setelah korban begitu banyak berjatuhan,
masihkah kita akan mengelak?
Pertanyaannya kemudian adalah, dari mana
kita memulai pembenahan itu. Kita dihadapkan pada kenyataan bahwa segalanya telah begitu
kacau dan rusak untuk bisa dibenahi. Pandangan itu tidak sepenuhnya benar. Kita bisa
memulai pembenahan itu dari diri kita sendiri.
Para orangtua diharapkan untuk kembali
mendekatkan dirinya kepada anak-anaknya. Mendekatkan diri dalam arti fisik maupun psikis.
Secara fisik, orangtua seharusnya menghabiskan waktu lebih banyak dengan anak-anaknya
sehingga para orang tua bisa mengetahui dengan cepat perubahan yang terjadi pada
anak-anaknya. Secara psikis, orang bisa seharusnya memberikan lingkungan yang baik bagi
anak-anaknya melalui pendidikan dan arena berkreativitas yang memadai. Dan untuk itu tidak
selalu harus dengan biaya mahal.
Tradisi dongeng
Membicarakan kedekatan antara orangtua
dengan anak-anaknya sama halnya dengan membicarakan komunikasi dua arah antara keduanya.
Tradisi ini tidak sulit untuk dibangun dan bisa dimulai dengan kebiasaan mendongeng dari
para orangtua kepada anaknya.
Di sela-sela kesibukan pekerjaannya atau
ketika mengantarkan anak-anak untuk tidur, orangtua bisa menyisipkan nilai-nilai moral
melalui dongeng yang diceritakannya. Pesan moral yang ditanamkan sedikit demi sedikit --
seperti prinsip menabung -- akan mengendap dalam memori sang anak sehingga menjadi sesuatu
nilai yang akan dibawanya hingga dewasa.
Melalui dongeng yang diceritakan
orangtuanya, anak-anak bisa sekaligus mengembangkan imajinasinya. Pada saat yang sama,
sang anak bisa bertanya banyak mengenai hal-hal yang menjadi pertanyaan atau pun
mengganggu pikirannya. Tidak saja berkenaan dengan dongeng yang didengarnya tetapi juga
berkenaan dengan pengalaman hidupnya sehari-hari.
Pada akhirnya, tradisi mendongeng ini akan
mempererat hubungan antara para orang tua dengan anak-anaknya. Secara psikologis, anak
merasa diperhatikan, disayangi sekaligus dijaga. Ini akan membuat sang anak tumbuh menjadi
remaja yang baik dan kemudian menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan bijaksana.
Jika sudah demikian, anak-anak tidak akan
membutuhkan jalanan untuk melampiaskan rasa ingin tahunya. Anak-anak tidak akan mencari
narkoba sebagai temannya dan tidak akan terjerembab dalam pergaulan bebas karena
nilai-nilai agama dan pesan moral yang ditanamkan sejak kecil terpatri kuat dalam
sanubarinya.
Tentu saja, isi dongengan harus sesuai
dengan usia sang anak. Balita umumnya menyukai cerita mengenai binatang. Sedangkan
anak-anak usia sekolah bisa diberi dongeng mengenai cerita rakyat dari berbagai daerah
yang kaya akan nilai-nilai budaya, semangat kebangsaan dan patrotisme. Sedangkan beranjak
remaja, orang tua bisa bercerita mengenai kisah-kisah yang lebih nyata dan ditemui dalam
kehidupan sehari-hari.
Untuk itu memang dibutuhkan kerelaan orang
tua menyisihkan waktu lebih banyak bagi anak-anaknya. Dibutuhkan kesabaran yang lebih
besar dari para orang tua dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari anak-anaknya. Bahkan
dibutuhkan jiwa besar para orangtua untuk menyadari bahwa pengetahuannya harus selalu
ditambah mengikuti perkembangan sang anak.
Sumber dongeng banyak sekali. Di berbagai
toko buku, banyak buku dongeng mulai dari cerita binatang, kisah rakyat dari berbagai
daerah hingga sejarah perjuangan bangsa Indonesia sebelum kemerdekaan. Belum lagi kejadian
sehari-hari yang dialami para orang tua yang bisa diceritakan kepada anak-anaknya.
Membudayakan dongeng ini tidak semata-mata
menjadi tugas para orangtua. Guru di sekolah pun bisa membantu dengan memberikan tugas
kepada muridnya untuk membaca di perpustakaan sekolah mengenai cerita-cerita rakyat dari
berbagai daerah. Upaya ini bisa menyemangati sang anak dalam berinteraksi dengan orang
tuanya di rumah karena adanya keterkaitan antara kegiatan di rumah dengan tugas di
sekolah.
Nilai positif lainnya adalah kelak
anak-anak ini pun akan menjadi orang dewasa dan menjadi orangtua. Bekal dari sekolah akan
dibawa terus hingga sang anak menjadi orangtua. Begitu terus sehingga nilai positif itu
selalu saja ada.
Menanamkan nilai-nilai budaya maupun
menyisipkan pesan moral melalui dongeng berdampak sangat luas. Tidak saja sang anak
menjadi dekat dengan orang tua dan komunikasi antar keduanya menjadi lancar, tetapi juga
menanamkan rasa cinta tanah air. Sekalipun saat ini negeri kita sedang dilanda krisis
kepercayaan dan krisis ekonomi, elit politik masih terus berebut kekuasaan, tetapi rasa
cinta tanah air yang ditanamkan lewat dongeng akan membantu sang anak menjadi orang yang
bijaksana.
Kalau kita mau sedikit berendah hati dan
melihat ke belakang, banyak cerita maupun dongeng di negeri ini yang selalu berulang.
Kekacauan politik dan panasnya perebutan kekuasaan yang terjadi saat ini, terjadi karena
para elit politik tidak pernah belajar dari sejarah dan melupakan dongeng-dongeng legenda
yang kita miliki.
Kita punya banyak dongeng yang bisa kita
petik pelajarannya, mulai dari Malin Kundang, Lambung Mangkurat, Joko Tingkir hingga Ken
Arok-Ken Dedes. Pelajaran yang bisa dipetik pun beragam. Belum terlalu terlambat untuk
membenahi semuanya. |