Gratis Attunement dari Master Rama Narendra

Melestarikan ajaran spiritual Asmak Malaikat warisan Sunan Muria (Wali Songo)

Berguna untuk penyembuhan, keselamatan, percaya diri dan ketentraman batin.

Terbuka untuk semua orang, Sudah Terbukti..!! Click disini>>


 

 

Arsip Artikel Perpustakaan dan

Buku Terbitan Indonesia

 

Kompas, 17 Desember 2000

Home | News Archives


Kalau untuk Makan, Cukuplah...


MAMPU bertahan dengan suatu usaha, menunjukkan bahwa secara ekonomi, menjual buku bekas dan khusus, setidak-tidaknya dapat dikatakan bukanlah kurang beruntung. Daluis di Bandung misalnya, telah berkiprah di "alam" ini selama 25 tahun. M Tahir di Senen, Jakarta, tidak dapat membayangkan pekerjaan lain, sehingga tidak terasa 10 tahun sudah disandangnya waktu sebagai penjual buku di kaki lima. Jose Rizal Manua, sudah lima tahun mendirikan galeri bukunya.

Pahit manis menggeluti perdagangan buku memang dirasakan Daluis sejak tahun 1975. Ketika itu Daluis berjualan di kawasan Cikapundung, pusat Kota Bandung. Tetapi tahun 80-an, para pedagang ramai-ramai hijrah ke Palasari, termasuk Daluis. Kini tercatat 100 lebih kios buku, mulai dari ukuran 2 x 2 meter seperti dimiliki Daluis sampai ukuran 6 x 10 meter, bertapak di situ.

Dengan kehidupan sebagai penjual buku, Daluis merasa hidup berkecukupan. Setiap hari Daluis bisa menjual buku sekitar 10 sampai 20 buah. Apalagi saat menjelang tahun ajaran baru. "Saya pernah menjual 200 buku sehari pada masa seperti itu," katanya seraya menambahkan, ia bisa meraup keuntungan, Rp 1.000-Rp 5.000 per buku.

Jose Rizal Manua mengaku, setiap hari nilai penjualan bukunya Rp 300.000- Rp 500.000. Untuk ini ia memperoleh keuntungan rata-rata 30 persen. Tak jarang pula, keuntungan tersebut berlipat ganda karena buku yang tersedia, ternyata terjual dengan harga tinggi. Beberapa bulan lalu, History of Java karya Raffles dijual Jose seharga Rp 2 juta.

"Kalau menjadi kaya, mungkin tak dapat. Tapi untuk makan, cukuplah...," ujar Tahir. Ia mengaku, setiap hari, ada saja yang membeli buku di tempatnya, sehingga ada uang yang bisa dibawanya pulang.

Hal senada diungkapkan Jose seraya menambahkan bahwa dengan pendapatan demikian, pihaknya baru sanggup untuk bernapas, tidak lebih dari itu-misalnya menggaji karyawan. Tak mengherankan, kalau semua pekerjaan sehubungan dengan galeri itu dilakukannya sendiri. Paling-paling ia dibantu oleh anak-anak dan istrinya.

Memperoleh keuntungan dalam perdagangan, memang seringkali bukan suatu garis lurus yang ditarik oleh seutas benang. Bagi Tahir sendiri, caranya pun berbagai macam. Tidak selalu, misalnya, calon pembeli yang mengetahui harga buku, sehingga bisa saja Tahir menjual sebuah buku baru dengan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan toko buku.

Yang pasti, memang ada keuntungan yang diraih dalam usaha ini. Kemungkinan memperoleh keuntungan itu pula yang menyebabkan, Fiki Septiawan, seorang remaja Masjid Amir Hamzah, Jakarta Pusat, membuka tempat penjualan buku-buku Islam di pelataran masjid tersebut.

"Sebanyak 20 persen dari keuntungan penjualan buku ini, kami serahkan untuk unit usaha masjid yang memang memerlukan dana dari berbagai kegiatannya, termasuk berkaitan dengan pembinaan remaja. Dibuka sejak beberapa bulan lalu, saat ini, ia baru mampu menjual tidak lebih dari 30 judul buku.

***

USAHA-usaha semacam ini, memang dilatarbelakangi oleh berbagai kondisi lain. Daluis misalnya, mengaku bahwa penjual di Palasari hanya membayar retribusi Rp 1.000 - Rp 1.500 setiap hari untuk kios yang mereka pakai. Tilas Book Shop di Bukittinggi (Sumbar) membayar sewa Rp 5 juta setahun, tetapi dinilai oleh Man-penanggung jawab Tilas-sebagai sesuatu yang wajar karena tempatnya memang strategis.

Lain lagi Galeri Buku Bengkel Deklamasi. Lokasi yang semula menjadi tempat pembuangan sampah tersebut, tidak disewanya. Ia hanya membayar uang listrik. Tetapi dengan demikian, Taman Ismail Marzuki (TIM) yang sempat dikenal sebagai sarang kesenian bermutu di Indonesia, memiliki roh tersendiri. Pusat kesenian ini tidak hanya disibukkan oleh orang makan di warung-warung yang berjejer di sekitarnya atau menonton film yang memenuhi selera pasar.

Ihwal yang berkaitan dengan retribusi atau sewa tempat yang masih terjangkau tersebut harus pula ditambah dengan berbagai perangkat lain yang mengeruk kantung usaha. Katakanlah surat izin usaha dan sejumlah pajak yang dapat dihindari oleh penjual-penjual buku tersebut karena sifat usaha mereka sendiri. Belum lagi kenyataan tidak diperlukannya gudang buku yang memang menuntut modal tak alang kepalang.

Agaknya, hal-hal semacam itulah yang menyebabkan harga sebagian buku di tempat-tempat semacam ini bisa lebih murah dibandingkan dengan toko-toko buku umum. "Buku ini kalau di toko harganya Rp 25.000, sedangkan di sini bisa dibeli dengan harga Rp 15.000," kata Daluis. Ia menunjuk buku mengenai hukum agraria.

Persaingan harga buku di Bandung pula khususnya, cukup mendongkrak usaha buku di kawasan Palasari. Sejak dulu kawasan itu dikenal dengan buku murah. Rata-rata pedagang buku (kios) di sana berani menjual buku lebih murah 25 persen dari harga di toko . Dengan harga bersaing, tak heran jika warga Bandung cenderung ke Palasari dibandingkan dengan pergi ke toko buku terkenal.

Di sana juga bertaburan buku-buku bekas yang bisa dibeli dengan harga miring. Jika satu set buku ensiklopedi di toko dijual dengan harga Rp 600.000, di Palasari bisa dibeli dengan harga Rp 250.000. Konon buku-buku seperti itu juga cukup laris. "Sudah begitu (murah) ada yang nawarin pula," kata Daluis sambil menunjuk buku dimaksud, Practical Handymans Encyclopedia.

***

"BISA juga lebih murah karena di kaki lima, orang kan lebih mudah menjual buku bajakan," kata seorang pedagang buku di Jakarta. Ia menambahkan, "Zaman sekarang ini, apa yang tidak dibajak orang Pak...VCD dan banyak lagi, juga dibajak orang. Sama juga halnya dengan pemalsuan uang, kan seperti membajak uang juga?"

Khusus mengenai hal terakhir itu, setiap orang tentu saja menolak pembajakan buku dengan berbagai alasan yang bahkan amat filosofis. Tetapi di sisi lain, konsumen memerlukan buku dengan harga murah. Apalagi mutu cetakan buku-buku bajakan tersebut tidak terlalu buruk dibandingkan buku aslinya.

Pedagang buku tampaknya tidak begitu pusing dengan pembajakan buku tersebut. Seperti ada "pemaafan" terhadap praktik semacam itu pada semua tingkat. Walhasil, buku-buku bajakan laris manis dan beredar tanpa mengenal batas. Sebuah buku bisa digandakan sampai seberapa banyak tanpa harus membeli buku baru. Konsumennya pun sebagian besar berasal kalangan insan pendidikan mulai dari siswa SD, pelajar, mahasiswa sampai dosen.

Makin pas agaknya alasan ihwal perhatian pedagang pada buku bajakan seperti itu, manakala mereka juga teringat bagaimana banyak penerbit yang berulah dengan cara memotong mekanisme pasar. "Mereka menjual langsung ke sekolah dengan diskon yang diberitakan di atas rata-rata," kata Syaiful Bahri dari Toko Buku Gramedia, Padang.

"Kalau ke toko buku, diskonnya 30 persen," sambung Syaiful, "sementara kalau langsung ke sekolah diskonnya 35-45 persen, disertai bonus atau hadiah dan komisi. Ini yang memberatkan toko buku dari dulu sampai sekarang, sehingga banyak guru-guru mengambil buku tidak ke toko buku, tetapi langsung ke penerbit."

Bukan rahasia lagi, beberapa tahun lalu, para penerbit bahkan mengantungi semacam monopoli penjualan buku suatu daerah-berbekalkan selembar surat dari instansi yang berkait langsung dengan pendidikan. Belum lagi pencantuman nama seorang pejabat sebagai penulis buku. "Jadi, buat apa pula kami harus bersusah-susah memperhatikan soal pembajakan buku itu," kata Daluis.

Ulah penerbit tersebut sempat disuarakan para pedagang (pengecer) buku dalam bentuk pengaduan kepada Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI). Akan tetapi kenyataannya, IKAPI juga bersikap masa bodoh. "Penerbit banyak yang suka menang sendiri, sementara pengecer ataupun agen dibiarkan telantar," ujar Daluis.

***

MENURUT Tahir, bagi pedagang buku kaki lima, los, dan kios, semua buku harus dijual. Tetapi buku yang paling banyak dibeli orang adalah buku yang berkaitan dengan ekonomi dan kumputer. Kecuali pada bulan puasa, buku yang berkaitan dengan agama Islam, menempati peringkat pertama. Perbandingannya bisa mencapai 1:10 untuk buku agama.

Cuma saja, sesungguhnya, bursa buku tak selamanya menjanjikan, kerap bergantung pada situasi ekonomi bahkan juga politik. Beberapa tahun terakhir, penjualan buku cukup lesu karena alasan ekonomi dan bulan puasa ataupun liburan anak sekolah, dibandingkan tahun-tahun sebelum krisis. Ini pun tidak terjadi pada semua tempat-bisa saja penjualan buku pada sejumlah tempat lain, mengalami kenaikan. Kesimpulannya, bursa buku dapat dikatakan bergerak secara fluktuatif dan tidak normal.

Ketidaknormalan penjualan buku bisa dilihat di Jalan Palasari Bandung, tempat berkumpulnya toko-toko buku dari ukuran kios, warung sampai toko buku beruangan AC. Ketika kios buku lesu di akhir tahun, toko-toko penjual buku komik dan novel justru laku keras. "Bulan puasa justru membawa rezeki bagi kami," kata Toton di Bandung.

Ia mengaku beruntung karena buku komik, cerita anak-anak, dan novel orang dewasa, laris manis di bulan Ramadhan. Ini cenderung meningkat setiap tahun. Dalam sehari, ia mampu menjual 20-30 buah buku komik sekaligus novel.

Anehnya, buku yang dibeli masyarakat sebagian besar adalah komik karangan luar negeri. Sebut saja komik anak-anak Harry Poter dan Batu Bertuah karangan JK Rowling, yang konon dilarang di Inggris tetapi menjadi best seller di Amerika. Tidak hanya itu, buku cerita rakyat Jepang juga cukup dinikmati masyarakat seperti Putri Gaia dan Detektif Conan.

Angka penjualan buku "asing" yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia cukup tinggi. Harganya pun murah dibanding harga di toko buku. "Perbedaannya sampai Rp 10.000," kata Toton sambil mencontohkan buku Harry Potter yang dijualnya seharga Rp 15.000. Sebaliknya, meskipun pembelinya kurang dibandingkan buku asing, untuk komik tentang cerita rakyat Indonesia seperti Malinkundang, Toton mengaku kehabisan persediaan.

Pengalaman Toton tentang jumlah pengunjung usahanya, terasa berada pada satu alur dengan pengalaman Toko Buku Gramedia, Padang, sebagaimana dikatakan pimpinannya, Saiful Bahri. "Tahun 1996-1997, toko ini rata-rata dikunjungi 1.500 orang per hari, sedangkan tahun 2000 dikunjungi 3.500- 4.000 orang," katanya. Begitulah. (ti/zal/nal)


Kumpulan Artikel Tentang Perpus & Resensi Buku Terbitan Indonesia

 

Home | Go | Asmak Malaikat | English Version