|
Melestarikan ajaran spiritual Asmak Malaikat warisan Sunan Muria (Wali Songo) Berguna untuk penyembuhan, keselamatan, percaya diri dan ketentraman batin. Terbuka untuk semua orang, Sudah Terbukti..!! Click disini>>
Arsip Artikel Perpustakaan dan Buku Terbitan Indonesia
|
|
|
| Media Indonesia, 17 Desember 2000 | |
Menghalau Komik yang tak Mendidik |
|
KOMIK sebagai sebuah bacaan ringan -- yang lebih banyak dikonsumsi oleh anak-anak -- adalah alat efektif untuk mempropagandakan ide, baik positif atau negatif. Indonesia akhir-akhir ini dibanjiri oleh komik-komik saduran dari Jepang yang umumnya tidak layak dikonsumsi oleh anak-anak. Bagaimana Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) melihat persoalan ini? Apakah mereka juga concern terhadap masalah ini? Untuk itu, berikut hasil wawancara wartawan Media Indonesia, Kristantyo Wisnu Broto, dengan Staf Humas dan Publikasi YLKI Dyah Indriantari Dasawati di kantornya Jumat lalu. Apakah YLKI memantau peredaran komik-komik yang sebenarnya tidak layak dikonsumsi anak-anak, seperti Crayon Sinchan? Untuk saat ini kami juga ikut memantau tapi tidak dengan penelitian secara mendalam. Kami ada prioritas program yang lainnya. Jadi, pilihan itu kembali kepada konsumen sendiri dan kepada Depdiknas diharapkan untuk menghalau komik-komik yang dikonsumsi oleh anak-anak itu. Dan ternyata memang tidak bersifat mendidik. Kira-kira YLKI sudah mendata atau merekomendasi beberapa komik yang tidak layak dikonsumsi anak-anak untuk ditarik dari peredaran? Belum sampai saat ini. Sebab, kami biasanya melakukan justru terhadap buku-buku ujian untuk masuk SMP, SMA, beserta kumpulan soal-soal. Waktu itu pernah kita temukan dari buku yang berbeda dengan soal yang sama tapi jawabannya berbeda-beda. Kalau komik memang belum kita lalukan tapi saya anjurkan untuk para konsumem yang tua untuk turut membaca dan mengikuti perkembangan komik anak-anak. Bagaimana mengantisipasi dampak negatif komik, seperti di Turki beberapa waktu lalu di mana seorang anak loncat dari gedung bertingkat karena meniru gaya Pokemon (tokoh komik Jepang)? Saya pikir pola pikir para orang tua sebaiknya harus diubah dalam menghadapi gelombang-gelombang mode terutama untuk anak-anaknya. Peranan mereka (produsen luar) sangat besar terutama memasukkan komik dulu, lalu film, baju, boneka. Semua itu dikomsumsi bulat-bulat oleh anak-anak. Konsumen dewasa inilah yang harus menetralisir agar pola konsumtif ini tidak mempengaruhi jiwa anak. Bagaimana anak itu tidak terpengaruh kalau tiap hari ia menerima komik, TV, dan baju otomatis, ia memerankan dirinya sama dengan si tokoh itu. Itu alasan sementara saya akibat penggambaran si tokoh komik tersebut. Untuk konsumen yang tua perlu menetralisir bahwa itu hanya sebuah cerita kalau kenyataaan tidak seindah itu. Bahwa kalau meraih kesuksesan bukan berasal dari keajaiban. Harus diperoleh dengan sekuat tenaga. Itu yang hrus diterangkan kepada anak. Sama kasusnya dengan Barbie doll (boneka Barbie) yang menimpa anak-anak perempuan seumur SD dan SMP di Australia. Mereka sangat mengatur pola makan. Karena mereka ingin badannya seperti boneka Barbie. Sampai akhirnya mereka hampir kekurangan gizi. Ini yang kita khawatirkan di Indonesia tentang komik yang demikian, bahkan pengaruh Barbie pun bisa menyerang dari komik juga. Kalau saya sendiri, saya preventifkan kepada anak-anak saya, dengan memberikan perbandingan. Misalnya, selain komik-komik Jepang, saya bacakan Popeye The Sailorman ke anak-anak saya. Saya jelaskan di situ bahwa untuk menjadi kuat dan pintar, maka banyak makanlah bayam seperti si Popeye. Ini gunanya bagi orang tua agar mereka punya pola pikir tidak one minded product saja. Anak-anak harus dikasih banyak pilihan. Jadi peran konsumen dalam hal ini orang tua sangat dituntut. Jaman Orde Baru ada semacam self sensorship terhadap buku-buku bacaan tapi sekarang ini seperti dilepas begitu saja. Terbukti dengan membanjirnya komik-komik impor. Bagaimana YLKI melihat dari sisi regulasinya? Untuk sampai ini YLKI belum melakukan hal itu. Karena bagaimana pun kami mempunyai prioritas program juga berkaitan dengan momen-momen tertentu. Itu pun kalau mendekati Hardiknas dan kenaikan kelas. Bukan saat ini, di mana kami berkonsentrasi pada produk-produk menjelang Lebaran dan Tahun Baru. Tapi mungkin kami juga perlu memasukkan pemantauan terhadap konsumsi buku bacaan anak-anak dalam program kami. Tapi hal itu dikaitkan dengan even-even penting dalam hari nasional kita. Biasanya setelah terbit dalam bentuk komik, maka muncul lagi dalam bentuk film dan produk sampingannya Produk itu sangat mahal sekali. Dan kalau hal itu tidak dipantau maka imbasnya adalah pembajakan. Maka itu kaitannya erat. Begitu film Pokemon muncul, tahu-tahu bonekanya ada di kakilima di Blok M. Hal itu adalah lingkaran yang sulit untuk dihentikan dan itu sasarannya adalah bagi anak-anak yang suka mengonsumsi. Sebab pola pikir anak-anak sudah terbentuk menjadi konsumsitivisme dan menjadi suka untuk mengonsumsi secara berlebihan. Saya umpamakan, anak saya mau membeli suatu produk dan ia memilih produk boneka Pokemon dari yang termurah sampai yang termahal. Karena ia terbentuk pada satu produk itu. Ini mungkin salah saya juga tapi sebenarnya kita tidak boleh seperti itu. Sebagai orang tua kita harus menetralisir hal itu. Kondisi demikian mungkin juga disebabkan komik-komik buatan lokal tidak muncul untuk menyaingi `serangan` dari luar itu? Hal itu bisa jadi benar. Ingat, ketika beberapa tahun lalu dengan maksud menghalau budaya-budaya luar maka pemerintah membuat program lokal di TV seperti Si Unyil. Itu sempat mencuat. Cuma sekarang ini produk itu tidak diimbangi dengan kualitas yang bagus mungkin karena biaya mahal. Tapi kalau hal itu tidak segera dilakukan dan ditanamkan di masyarakat kita, terutama para pakar pembuat komik, film dan sebagainya untuk meng-counter hal-hal dari luar sana, maka kita akan selalu menjadi pasar mereka. Dengan adanya globalisasi saya khawatirkan itu akan lebih membanjir lagi. Di satu sisi begitu produk lokal dibuat maka harganya menjadi sangat mahal. Sehingga hampir tidak bisa dikonsumsi oleh masyarakat umum. Bayangkan untuk film-film kartun yang buatan Indonesia itu dijual dengan harga antara Rp 25.000-Rp 50.000, seperti film serial Timun Mas. Itu pun waktu tayangnya cuma 30 menit. Untuk itu sekarang ini dituntut kreativitas dari para budayawan kita untuk menciptakan serta mengajak para generasi kita mendatang bahwa negeri kita ini kaya akan cerita. Pengarang di Amerika dan Jepang sendiri sangat menguasai cerita dongeng anak-anak atau cerita-cerita rakyat. Dan, di sana tidak ada pembedaan antara pengarang yang baru dengan pengarang yang tua semuanya dihargai sesuai dengan proses kreatifnya. (CR-6/HP) |
|
Kumpulan Artikel Tentang Perpus & Resensi Buku Terbitan Indonesia |
|
|
Home | Go | Asmak Malaikat | English Version
|