Gratis Attunement dari Master Rama Narendra

Melestarikan ajaran spiritual Asmak Malaikat warisan Sunan Muria (Wali Songo)

Berguna untuk penyembuhan, keselamatan, percaya diri dan ketentraman batin.

Terbuka untuk semua orang, Sudah Terbukti..!! Click disini>>


 

 

Arsip Artikel Perpustakaan dan

Buku Terbitan Indonesia

 

Suara Pembaruan, 19 Oktober 2000

Home | News Archives


Minat Baca Tidak Berhubungan dengan Harga Buku


Minat baca masyarakat sering kali dianggap berkaitan erat dengan harga buku. Tak jarang, muncul pula anggapan bahwa buku-buku bermutu selalu berharga tinggi. Padahal, persoalan minat baca sangat berkaitan erat dengan jenis bacaan yang beredar.

Anggapan yang keliru itu justru menyebabkan masyarakat tidak pernah punya kesempatan merumuskan kebutuhan bahan bacaan. Mitos tersebut akhirnya juga menjebak banyak pihak yang terlibat dalam penerbitan buku.

Hal itu dikatakan peneliti dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Primantoro Nugroho, dalam Diskusi Nasional "Rahasia Minat Baca dalam Mendongkrak Bisnis Media Cetak" di Jakarta, Rabu (18/10).

Primantoro mengatakan, orientasi minat baca masyarakat akhirnya ditafsirkan secara keliru oleh banyak pihak termasuk penerbitan. Padahal minat baca sama sekali tidak berhubungan dengan harga buku atau mitos-mitos lain yang selama ini berkembang.

Minat baca masyarakat terhadap buku sebenarnya berkembang dengan wajar apabila banyak pihak berpe-ran aktif. Minat baca akan terbentuk dengan sendirinya jika buku-buku yang ada di pasaran memang dianggap sesuai. Mitos-mitos yang beredar di kalangan penerbit selama ini akhirnya juga menyebabkan daya serap masyarakat terhadap buku sangat rendah.

"Sebetulnya bukan minat baca yang jadi problem. Selama ini, masyarakat tidak dibiarkan merumuskan sendiri kebutuhan minat bacanya seperti apa. Rumusan itu selalu diambil alih oleh pihak-pihak lain seperti pemerintah atau industri bacaan. Di situ, terjadi pengambilalihan otonomi untuk menentukan bacaan yang diperlukan masyarakat," kata Primantoro.

Ia menilai, anggapan minat baca masyarakat rendah adalah keliru. Menurutnya, masyarakat selalu dijadikan sasaran tembak dan dipersalahkan tidak punya kesadaran membaca. Padahal sebenarnya masyarakat tahu arti penting membaca.

Mendeteksi Kebutuhan

Inti persoalan sebenarnya ialah bagaimana mendeteksi kebutuhan bahan bacaan yang bervariasi. Upaya mendeteksi kebutuhan itu adalah tugas semua pihak. Oleh karena itu, pengambilalihan otonomi bacaan seperti yang dilakukan pemerintah itu harus dihentikan atau setidaknya dikurangi.

Slogan buku mencerdaskan bangsa, kata Primantoro, hanya kalimat yang bersifat ideologis. Artinya, untuk mewujudkannya harus ada implikasi yang mendukung.

"Tetapi sayang tidak pernah dipersoalkan apa mencerdaskan siapa? Apa ke- kuatan sebetulnya yang bisa mencerdaskan bangsa? Siapa yang dicerdaskan? Menurut poin saya, sejak tahun 1945 kalimat itu dijadikan ideologi yang patron-patronnya justru malah antikecerdasan," katanya.

Selama ini, kecerdasan masyarakat diarahkan pada kecerdasan orang per orang, dan bukan kecerdasan sosial. Padahal kecerdasan sosial itu yang menjadi masalah. Kecerdasan sosial ialah kecerdasan yang memerlukan ingatan kolektif dari satu komunitas. Alat yang terpen- ting itu adalah sejarah atau pengetahuan umum. Sejarah yang membuat orang ingat hal-hal yang selama ini tidak boleh diingat.

Pada kesempatam sama, Helmar Farid, Dosen Institut Kesenian Jakarta, mengatakan, persoalan minat membaca, menerbitkan buku, menjual buku, harus dipisahkan satu sama lain. Ketiga unsur tersebut sangat sulit dipertemukan. Pemecahan masalah tersebut tidak bisa ditemukan dengan jawaban yang instan.

"Dunia buku sangat kompleks hubungannya dengan elemen lain seperti pendidikan sekolah atau pemerintah. Menurut saya bagaimana menerbitkan buku dengan tiga tipologi tersebut itu adalah mustahil. Kalaupun ada, hanya pengecualian. Sekarang masalahnya bagaimana mencoba bersikap realistis dan sistematis," kata Helmar.

Menurutnya, pemahaman mengenai penerbitan buku tidak bisa dipersempit hanya profit making. Sebagai industri, seharusnya penerbit buku berpikir dalam kerangka yang lebih luas.

"Kalau hanya ingin menjadi profit making, lebih baik menjual kain saja. Sekarang ini, tantangannya bagaimana kita menciptakan suatu kondisi yang kondusif. Tugas itu bukan hanya penerbit tetapi juga pendidikan dan pemerintah. Semua terkait. Penerbit harusnya sadar tidak mengharapkan sesuatu kontribusi yang langsung kembali," kata Helmar.

Jadi, kata Helmar, tidak benar buku yang laku itu yang kacangan, sementara buku yang bermutu susah dijual. Tidak ada jaminan untuk mengukur selera atau minat orang. Karena itu sekarang ini bergantung pada bagaimana semua pihak ikut menciptakan keadaan yang kondusif. (UW/M-12)


Kumpulan Artikel Tentang Perpus & Resensi Buku Terbitan Indonesia

 

Home | Go | Asmak Malaikat | English Version