|
Melestarikan ajaran spiritual Asmak Malaikat warisan Sunan Muria (Wali Songo) Berguna untuk penyembuhan, keselamatan, percaya diri dan ketentraman batin. Terbuka untuk semua orang, Sudah Terbukti..!! Click disini>>
Arsip Artikel Perpustakaan dan Buku Terbitan Indonesia
|
|
|
| Kompas, 17 Mei 2001 | |
Richard Oh dan Toko Bukunya |
|
Richard Oh PERTENGAHAN tahun 1999, ketika krisis moneter masih jauh dari pulih, sebuah toko buku yang menjual ribuan judul buku impor muncul di Plaza Senayan Jakarta. Namanya QB World. Kesannya seperti nama toko buku yang berpusat di luar negeri sana. QB World memuaskan para penikmat buku. Filsafat, sains, buku-buku babon, sastra, sosiologi, sejarah, biografi, jender, semiotika, puluhan majalah, buku-buku lukisan, malah beberapa partitur musik, dan dua puluhan kategori lain, juga buku-buku laris bestseller, tersedia di sana. Pengunjung bebas membaca sebab rak-raknya memajang buku yang tidak dibungkusi plastik. Di Times dan MPH di Jakarta sulit menemukan nama-nama seperti Umberto Eco, David Bohm, WG Sebald, apalagi Charles Darwin dengan The Origin of Species. Yang ramai bestseller dari tahun ke tahun. Sebagian buku dan majalah malah dibungkus ketat dengan plastik. Kelebihan QB World, dibandingkan dengan cabang toko buku multinasional di Jakarta, makin terasa di cabangnya di Jalan Sunda, dekat Sarinah Thamrin. Dibuka akhir tahun 1999, cabang ini menjual 50.000-an judul buku dan menempati ruang sampai 500 meter persegi, delapan kali luas cabang Senayan yang hanya 59 meter persegi. Ada pula kafe di bagian depan yang menyiapkan makanan berat sampai minuman ringan. Toko buku yang memanjakan pengunjung, dengan menyediakan beberapa sofa di antara rak-raknya, memang ditata dengan interior dan pencahayaan yang berselera. Sebuah ruangan di bagian belakang QB World Jalan Sunda menjadi studio untuk siaran langsung book review stasiun televisi berita Metro-TV setiap Minggu pagi. "Ini satu-satunya toko buku yang memancarkan langsung program televisi," kata Richard Oh, sang pemilik QB World. Program baru televisi itu telah menampilkan Dewi Lestari br Simangunsong, penulis novel Supernova, dan Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri yang baru meluncurkan kumpulan cerpennya, Hujan Menulis Ayam. "Yang tampil Minggu nanti (20 Mei-Red) adalah Franz Magnis-Suseno. Waoow..., penulis buku Pemikiran Karl Marx yang sempat terkena sweeping barusan," kata Richard tentang tayangan kerja sama Metro-TV dengan QB World. PENGUSAHA yang sehari-hari melintasi Jakarta dengan mobil Jaguar itu sekarang sedang sibuk mengurusi bisnis barunya: toko buku. Setelah sepuluh tahun menjalankan usahanya di bidang periklanan, bachelor sastra dari University of Wisconsin, Madison, Amerika Serikat keluaran tahun 1988 ini mengatakan, "Saya baru berpikir mau melakukan sesuatu yang aku senangi setelah sepuluh tahun pontang-panting dalam bisnis advertising sampai krisis datang dan aku mulai capek." Yang ia maksud dengan kegiatan yang ia senangi itu adalah menulis dan membaca-dua aktivitas yang berhubungan dengan buku-serta mengoleksi buku. Kesenangannya menulis, selain menerbitkan beberapa artikelnya yang dimuat di surat kabar The Jakarta Post, telah pula menghasilkan dua novel, Pathfinders of Love (1999) dan Heart of the Night (2000). Kesenangannya membaca membuat sebagian waktu jalan-jalannya ke kota-kota dunia tersita di toko buku dan menambah bagasinya setiap kali pulang dengan satu-dua koper berisi buku. "Pemilik sebuah toko buku di Roma sampai bilang ke saya, 'Keluarga ini punya penyakit', karena kami sekeluarga dalam beberapa hari bolak-balik ke tokonya. Seperti ada obsesi, gitu," kata ayah tiga anak ini. "Pulang-pulang saya pikir, kenapa enggak saya lakukan yang saya suka. Dari situ saya mulai buka toko buku dan responsnya ternyata cukup lumayan." Dengan modal sampai beberapa milyar rupiah yang ia kumpulkan dari bisnis periklanannya, bisnis tekstil istrinya, dan bisnis lain orangtuanya, Richard bersama Ingrid Suria, istrinya, mulai merancang toko buku pada tahun 1997 dan baru buka pertengahan tahun 1999. Mereka memberi nama QB World, singkatan dari quality buyers world, dunia para pembeli yang mencari mutu. "Karena saya paham advertising dan visual graphic, konsep-konsep itu masuk ke toko buku ini seperti pada interior dan pengadaan diskusi," kata Richard mengenai QB World yang akhir-akhir ini giat mengundang pengarang Indonesia berbicara di toko bukunya. "Walau sudah ada yang memulai di luar negeri, QB World adalah kreasi anak Indonesia." Mengenai munculnya beberapa toko buku baru sejenis di kawasan lain Jakarta, Richard mengatakan ketika membuka toko buku, prinsipnya harus benar dulu: membuat toko buku yang bisa didatangi semua orang yang menemukan buku yang mereka inginkan. "Kalau mau komersial, sekalian komersialkan semuanya. Kalau mau quality, taruhlah buku-buku yang benar-benar orang mau, walaupun ada risiko seperti buku-buku WG Sebald yang saya anggap harus ada karena punya breakthrough ke arah yang agak beda dalam sastra," katanya. RICHARD Oh lahir di Tebingtinggi, 30 Oktober 1959. Di kota lemang Sumatera Utara inilah ayahnya berdagang rempah-rempah sampai Richard, sulung dari tiga bersaudara, berusia sepuluh tahun. Keluarga saudagar ini kemudian pindah ke Medan. Minatnya ke sastra tumbuh ketika ia belajar bahasa Inggris di LIA Medan dan menemukan seorang guru bahasa yang mengajarinya mengenal bahasa Inggris dengan cepat lewat sastra. Di perpustakaan LIA dan British Council di kota itulah, ia membaca novel-novel Joseph Conrad sampai Cynthia Ozick. Lulus SMA ia merantau ke Jakarta, tinggal di rumah pamannya, dan meneruskan kursus bahasa Inggrisnya di sebuah lembaga dengan instruktur native speaker. Ia memang akhirnya lebih mengenal novel-novel berbahasa Inggris ketimbang Indonesia, apalagi ketika meninggalkan Indonesia pada tahun 1983 dan belajar sastra di University of Wisconsin. Di sana ia sempat berguru creative writing pada Lorrie Moore, penulis Birds of America yang sempat masuk nominasi National Book Award of America. Berkembangnya QB World, sebagai toko buku dengan program-program yang memanjakan para pengarang, membuat Richard berkenalan dengan sastra Indonesia. Dengan cepat ia sudah melahap karya-karya tonggak Pramoedya Ananta Toer, Sitor Situmorang, Sutardji Calzoum Bachri, Danarto, sampai Arifin C Noer, dan merasakan tidak kalah dengan buku-buku pengarang dunia yang sudah ia baca. Sekarang ia merencanakan menerbitkan serangkaian buku-buku Indonesia itu-selain Pramoedya yang sudah banyak diterjemahkan ke banyak bahasa-ke dalam bahasa Inggris. Sampai akhir tahun 2001 ini sebagian naskah sudah siap dicetak, sebagian sedang diterjemahkan. Menurut catatannya selama menjelajahi banyak toko buku di kota-kota dunia, rak-rak buku seksi Asia tak satu pun memperlihatkan perwakilan budaya sastra Indonesia. Karya Pramoedya selalu ditempatkan di seksi karya-karya dunia. "Karena enggak ada yang mau melakukan, saya mau melakukannya," kata Richard yang akhir-akhir ini sering nongkrong di Taman Ismail Marzuki, bergaul dengan sastrawan Indonesia. "Tugas saya, kalau orang mau datang ke QB World, kami punya section yang cukup lengkap mewakili budaya sastra kita." Imbas membaca sastra Indonesia itu sampai pula pada pemberian nama kepada putri ketiganya yang baru lahir dua bulan lalu: Madeleine Pramoedya. Putri pertamanya, Michelle Kirana (12), kini belajar di sekolah internasional Canada di Hongkong. Putra keduanya, Julian Pratama (9), tinggal bersama mereka di Jakarta. (Salomo Simanungkalit) |
|
Kumpulan Artikel Tentang Perpus & Resensi Buku Terbitan Indonesia Any request? Please send to: librarian@infoperpus.8m.com |
|
|
Home | Go | Asmak Malaikat | English Version
|