|
Melestarikan ajaran spiritual Asmak Malaikat warisan Sunan Muria (Wali Songo) Berguna untuk penyembuhan, keselamatan, percaya diri dan ketentraman batin. Terbuka untuk semua orang, Sudah Terbukti..!! Click disini>>
Arsip Artikel Perpustakaan dan Buku Terbitan Indonesia
|
|
|
| Kompas, 17 Mei 2001 | |
Taman Budaya "Shopping Center" DI Yogyakarta Telantar |
|
PEMBANGUNAN Taman Budaya "Shopping Center" Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sudah satu tahun ini terkatung-katung. Auditorium berskala internasional yang baru tuntas sekitar 70 persen itu masih menanti kucuran dana sekitar Rp 7,5 milyar dari APBN. Padahal, rencananya, gedung itu akan soft opening tanggal 8 Juli 2001, berbarengan dengan hari ulang tahun sebelas windu Arkeologi Nasional. Sampai Senin (14/5), Taman Budaya yang berlokasi di bekas pasar buku loak "Shop-ping Center" Yogyakarta itu, masih dikelilingi pagar berupa lembaran-lembaran seng. Ada juga beberapa lembar yang sudah hilang sehingga orang tak dikenal dapat seenaknya memasuki pelataran gedung itu. Kepala Taman Budaya Suprapto mengakui, pembangunan center culture (pusat kebudayaan) itu terhenti begitu saja dan diserahkan oleh kontraktor pelaksana PT Perwita Karya tahun lalu. Krisis moneter menyebabkan porsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk gedung itu ikut tersendat. "Dari dana sekitar Rp 36 milyar yang direncanakan, kalau dihitung-hitung masih kurang Rp 7,5 milyar," ujar Suprapto yang sekaligus menjabat Bendahara Dewan Kesenian DIY. Kekurangan biaya itu pun baru untuk menyelesaikan bangunan induk, khususnya auditorium lantai dua. Biaya itu, jelas Suprapto, bisa juga digunakan untuk pengadaan sekitar 1.400 kursi, fasilitas kedap suara, sound system, dan alat pendingin AC. Untuk orang cacat yang menggunakan kursi roda, tersedia jalan khusus mencapai lantai II. Jadi, paparnya, pembangunan itu belum termasuk gedung teater arena, seni musik, wisma seni, dan perpustakaan, balai seni, gallery, teater taman, bangunan penunjang, gedung bekas "Shopping Center", kios buku, dan fasilitas lainnya. Rencananya, sekitar lima tahun mendatang, gedung itu diharapkan mampu menjadi Pusat Kebudayaan dan Pariwisata Dunia. Bukan hanya menjadi wadah kreatif seniman negeri ini, tetapi juga mancanegara. Hal itu, ujarnya, sudah ditandai dengan kerja sama antara Yogyakarta dengan masing-masing kota, yakni Kyoto (Jepang), San Francisco (Amerika Serikat), dan Iskandarsyah (Mesir). MACETNYA pembangunan itu membuat fungsi gedung induk tersebut berubah. Meskipun ada beberapa penjaga keamanan pada malam hari, ujar Suprapto, gedung yang bergaya Indische (Belanda) unik buatan arsitektur PT Kerta Gana Ir Winarno Cs dan sudah dilengkapi berbagai lampu penerang itu kini menjadi "rumah" para gelandangan. Bah-kan, katanya, kawasan taman budaya itu menjadi tempat yang rawan dan sulit ditata. Padahal, jelasnya, taman budaya itu menjadi pengganti Taman Kesenian Purna Budaya. Taman budaya yang ditargetkan mencapai tahap finishing (akhir) sekitar tahun 2004 ini nantinya bermanfaat sebagai wadah kiprah seniman Yogyakarta maupun seniman lainnya. Apalagi, selain lokasinya yang sangat strategis di kawasan perkotaan, gedung itu juga menjadi gedung paling representatif di Kota Yogyakarta. Ahli Sejarah Arsitektur PT Kerta Gana Ir L Indartoro mengatakan, keberadaan bangunan itu harus diselamatkan dan sungguh dimanfaatkan oleh para seniman untuk mengenang zona kolonial hingga sungguh menjadi cagar kebudayaan Indonesia. Akan tetapi, keberadaan pedagang-pedagang itu juga harus dipikirkan secara bijaksana sehingga tidak mendatangkan aksi massa yang merusak citra gedung itu. Pada bagian lain, Suprapto menjelaskan, Dewan Kesenian DIY masih mengalami kesulitan menata pedagang-pedagang sayur-mayur yang berjualan di sepanjang gerbang masuk utama gedung itu. "Sepertinya penataan itu bisa menjadi masalah sosial," tegasnya. Menurut pemantauan Kompas, lokasi gedung utama taman budaya tersebut semakin hari semakin sumpek oleh kehadiran pedagang kaki lima (PKL). Para pedagang tersebut merupakan luberan dari Pasar Progo yang berada sekitar 20 meter dari lokasi gedung. Pertengahan tahun 2000, Pemda Kota Yogyakarta pernah merelokasi mereka ke Giwangan. Namun, para PKL yang menjajakan sayur-mayur dan berbagai jenis aksesori dan makanan kembali lagi berjubel di tempat semula. Jalan Sriwedani yang merupakan jalur masuk dari jalan protokol (Jalan Senopati) kini tak bisa dilintasi roda empat, lantaran sesaknya PKL hingga di badan jalan. (sto/nar) |
|
Kumpulan Artikel Tentang Perpus & Resensi Buku Terbitan Indonesia Any request? Please send to: librarian@infoperpus.8m.com |
|
|
Home | Go | Asmak Malaikat | English Version
|