Gratis Attunement dari Master Rama Narendra

Melestarikan ajaran spiritual Asmak Malaikat warisan Sunan Muria (Wali Songo)

Berguna untuk penyembuhan, keselamatan, percaya diri dan ketentraman batin.

Terbuka untuk semua orang, Sudah Terbukti..!! Click disini>>


 

 

Arsip Artikel Perpustakaan dan

Buku Terbitan Indonesia

 

Republika, 23 Mei 2001

Home | News Archives


Catatan Tentang Budaya Baca


(Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

Oleh: Prof Dr Fuad Hasan - Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

Kalau kita melancong ke Mesir, maka di daerah-daerah yang menjadi tujuan wisata dijual berbagai cenderamata berupa replika peninggalan dari zaman Fir'aun. Di antara yang disukai para wisatawan ialah replika patung berbentuk seorang yang duduk sambil memangku buku. Patung ini menggambarkan seorang yang sehari-hari bekerja sebagai pencatat berbagai peristiwa kemasyarakatan yang penting. Patung "Sang Penulis" (The Scriber) ini menunjukkan bahwa merekam secara tulisan sudah dikembangkan beribu tahun yang lalu. Tradisi tulisan mulai berkembang sejak ditemukannya aneka bentuk huruf atau lambang yang dapat dirangkai sebagai kata hingga cerita. Pendeknya tradisi tulis sudah dimulai jauh sebelum orang mengenal tulisan yang dihimpun sebagai buku.

Lebih dari dua milenium yang lalu terkenal perpustakaan Alexandria yang saat ini memiliki koleksi 'bahan pustaka' terbesar berupa gulungan lembar-lembar bertulis (scrolls) yang terpelihara rapih dan disimpan dalam laci-laci. Perpustakaan ini --di samping mercu suar Alexandria yang merupakan salah satu keajaiban dunia-- telah menjulangkan citra kota Alexandria sebagai pusat filsafat, ilmu dan kebudayaan. Selain Alexandria, beberapa kota di kawasan timur Laut Tengah pun mendirikan perpustakaan.

Di Timur jauh, tradisi tulis pun berkembang pesat di Cina, termasuk upaya untuk melestarikannya sebagai naskah-naskah agar dapat dibaca oleh kalangan tertentu, terutama oleh para pemikir dan anggota keluarga kerajaan. Ini berarti bahwa bahan bacaan tidak bebas dicapai oleh semua orang, melainkan dikhususkan bagi mereka yang tergolong pemikir, pakar dan bangsawan; dengan kata lain, membaca bahan tertulis merupakan privilese bagi golongan masyarakat terbatas.

Mungkin karena perbanyakan naskah merupakan salinan tulisan tangan, maka jumlah salinan juga terbatas sehingga penyebarannya pun terpaksa di kalangan terbatas. Meskipun cara reproduksi bahan tertulis sudah mulai dilakukan di Cina kuno, teknik cetak yang nyata pengaruhnya terhadap laju perkembangan perbukuan baru terjadi pada abad ke-15, yaitu ketika teknik cetak diperkenalkan oleh J Gutenberg. Sebelum penemuan itu, penggandaan naskah di Eropa pun dilakukan melalui penyalinan dengan tulisan tangan oleh mereka yang sehari-hari bekerja di scriptorium, yaitu ruangan yang dikhususkan untuk menulis dan menyalin naskah.

Dengan diperkenalkannya teknik cetak, terjadilah perubahan besar dalam dunia perbukuan, bukan saja oleh meningkatnya produksi buku, melainkan terlebih lagi oleh meluasnya kalangan masyarakat yang bisa dicapai oleh bahan tertulis, khususnya yang berupa buku. Tidak dapat disangkal bahwa meluasnya peredaran buku ke dalam suatu masyarakat berpengaruh nyata atas kemajuan masyarakat.

Informasi yang diserap oleh masyarakat meningkat, termasuk taraf edukasi dan sofistikasi warganya. Hal ini berkaitan dengan kenyataan bahwa setiap bacaan menjadi rangsang untuk mencari bacaan berikutnya, sehingga membaca kian terasa sebagai kebutuhan yang tidak terpuaskan. Pada titik inilah minat baca mulai beralih menjadi budaya baca; membaca bukan lagi sekadar pengisi waktu terluang, bukan lagi sekadar kegiatan rekreatif, melainkan sebagai kebutuhan yang terus-menerus mendesak untuk dipuaskan.

Membangun Minat Baca

Pemicu bagi bangkitnya minat baca ialah kemampuan membaca, dan pemacu bagi berseminya budaya baca ialah kebiasaan membaca, sedang kebiasaan membaca terpelihara oleh tersedianya bahan bacaan yang baik dan menarik. Inilah ringkasnya formula bagi pengembangan budaya baca. Tersirat dalam rumus ini ialah perlunya minat baca itu dibangkitkan sejak dini. Dimulai dengan perkenalan dengan bentuk-bentuk huruf dan angka pada masa pendidikan pra-sekolah hingga mantapnya penguasaan Baca-Tulis-Hitung (the 3 R's, Reading-wRiting-aRithmetic) pada awal masa pendidikan di Sekolah Dasar. Perlu dicatat bahwa dalam dunia modern ini setiap anak mulai berkenalan dengan bentuk-bentuk huruf dan angka jauh sebelum ia belajar membaca.

Maka sejak usia dini pula harus sudah tersedia bahan bacaan yang menarik --baik untuk dibacakan kepada anak atau dibaca sendiri olehnya-- untuk pertama-tama membangkitkan minat baca. Bangkitnya minat baca juga terdorong oleh sejauh mana perkenalan anak dengan bacaan berupa buku. Oleh karenanya perlu diberdayakan potensi penulis buku cerita anak untuk berbagai tahap perkembangan anak. Mungkin masih ada yang mempersoalkan, apakah buku bacaan anak harus lebih didasarkan pada cerita dari dunia fantasi ataukah diangkat dari berbagai fakta yang menjadi pengamatan dan pengalaman anak. Persoalan ini juga menjadi pembahasan para pakar mengenai dunia bermain anak; yaitu apakah dunia bermain anak perlu dileluasakan sesuai dengan fantasi anak (F Frobel) atau harus disesuaikan dengan perkembangan fungsi yang kemudian berguna dalam kenyataan (M Montessori).

Terhadap kedua persoalan tersebut dapat ditegaskan, bahwa bacaan anak boleh saja dikaitkan dengan dunia fantasi maupun diangkat dari dunia fakta; keduanya sama-sama berguna sebagai penunjang perkembangan emosional dan mental anak. Dengan daya khayalnya seorang anak bebas untuk membangun suatu dunia dengan dirinya sendiri sebagai pusatnya. Dalam dunia khayal anak bisa 'belajar' menjalankan berbagai peran. Di sisi lain, anak juga harus berkenalan dengan berbagai kenyataan yang mendorongnya untuk belajar menyesuaikan tingkah lakunya dengan situasi konkret dan kondisi sesaat dalam lingkungannya.

Minat anak terhadap sesuatu cerita sangat ditentukan oleh sejauh mana anak dapat turut 'menghuni' dunia yang disajikan melalui cerita itu sehingga dia dapat mengidentifikasikan diri dengan sesuatu sosok yang berperan di dalamnya dan bersambung penghayatan (empathy) dalam berbagai adegan cerita itu. Terbukanya peluang bagi identifikasi-diri dan empati itulah yang efektif sebagai pembangkit minat anak hingga ia 'terhanyutkan' oleh suatu cerita. Maka cerita anak harus mampu membangun 'dunia' yang menimbulkan ajakan (appeal) bagi anak untuk turut menghuninya. Tanpa berhasilnya cerita itu mengajak anak untuk turut menghuni dunia yang dibangunnya, niscaya cerita itu akan menjemukan.

Cerita anak akan lebih menarik bagi anak jika menampilkan tokoh-tokoh yang aktif berbuat sesuatu (characters in action). Anak tertarik untuk menyaksikan bagaimana cara tokoh-tokoh itu mengatasi berbagai kesulitan yang dihadapinya, bagaimana mereka tampil sebagai seorang penolong yang berhasil, bagaimana mereka berjuang keras untuk menjadi juara, dan banyak adegan aktivistik lainnya. Bahkan cerita yang menampilkan kenakalan seorang anak pun akan lebih berhasil membangkitkan minat anak ketimbang cerita-cerita yang sarat dengan moralisasi dengan tentang "bagaimana menjadi anak yang baik, yang penurut, yang rajin belajar", dsb. Pada usia pra remaja seorang anak lebih cenderung menghayati cerita dengan adegan-adegan konkret.

Pada masa pra remaja, kemampuan anak untuk melakukan penilaian secara moral belum mantap, apalagi menetap; baginya penilaian terhadap baik-buruknya suatu perbuatan cenderung dikaitkan dengan hasil atau efek perbuatan itu. Hasil atau efek yang menyenangkan cenderung dianggap 'baik-baik' saja; tambah lagi, perbuatan dengan hasil atau efek yang menyenangkan cenderung diulang pula.

Hal ini disebabkan karena perilaku anak masih lebih dipengaruhi oleh berlakunya asas kesenangan (pleasure principle) ketimbang oleh pertimbangan moral. Pleasure principle merumuskan gejala alamiah bahwa segala perbuatan makhluk hidup dengan hasil atau efek menyenangkan niscaya cenderung diulang-ulang. Pada masa dini perkembangan anak, asas tersebut lebih berpengaruh sebagai pengarah perbuatan anak ketimbang asas moral (moral principles), karena si anak belum cukup mampu untuk membuat pertimbangan moral (moral judgment) secara mantap.

Anak lebih responsif terhadap adegan-adegan aktivistik yang membuka kesempatan baginya untuk identifikasi diri dan empati, apalagi kalau aktivisme tokoh-tokohnya bermuara pada sesuatu keberhasilan. Cerita-cerita yang menampilkan tokoh-tokoh aktif dan prestatif juga turut mendukung dirangsangnya dorongan berprestasi (apa yang diperkenalkan oleh David McClelland sebagai need for achievement). Studi yang dilakukan oleh McClelland menunjukkan betapa bacaan anak yang menyajikan peneladanan berprestasi bisa berpengaruh kuat terhadap meningkatnya dorongan berprestasi pada anak.

Sumber perteladanan juga bisa dihasilkan melalui biografi tokoh berbagai bidang dalam spektrum kehidupan umumnya, seperti bidang kenegaraan, kemasyarakatan, kemanusiaan, keilmuan, kesenian, keprajuritan, kesusastraan, dsb. Dalam suasana globalisme dewasa ini perlu juga anak berkenalan dengan tokoh-tokoh pada tataran internasional; maka biografi mereka pun merupakan bahan bacaan yang berguna bagi perkembangan mereka menuju kedewasaan.

Mengenal tokoh-tokoh dengan jasa dan pengabdian nyata jauh lebih positif pengaruhnya sebagai pendukung terbentuknya kepribadian, ketimbang kecenderungan mereka memilih 'idola' musiman yang sekadar berdampak sebagai citra imitasi dan bukan tokoh identifikasi yang bisa berpengaruh sebagai model peran (role model). Identifikasi diri terjadi terhadap suatu sosok ideal, dan prosesnya merupakan penghayatan penyamaan diri dengan ideal sebagaimana diwakili oleh sesuatu model. (bersambung)


Kumpulan Artikel Tentang Perpus & Resensi Buku Terbitan Indonesia Any request? Please send to: librarian@infoperpus.8m.com

 

Home | Go | Asmak Malaikat | English Version