Gratis Attunement dari Master Rama Narendra

Melestarikan ajaran spiritual Asmak Malaikat warisan Sunan Muria (Wali Songo)

Berguna untuk penyembuhan, keselamatan, percaya diri dan ketentraman batin.

Terbuka untuk semua orang, Sudah Terbukti..!! Click disini>>


 

 

Arsip Artikel Perpustakaan dan

Buku Terbitan Indonesia

 

Koran Tempo, 26 Juli 2001

Home | News Archives


Dari British Council untuk Indonesia


Gillian Westaway

Banyak orang yang meniti karier jauh dari cita-cita semula. Tapi mungkin jarang yang menemukan harapannya justru ketika jauh dari tanah kelahiran. Gillian Westaway salah satunya. Deputy Director British Council Indonesia ini justru merasa yakin bahwa dunia pendidikan dan bahasa adalah kunci suksesnya.

Masa kecil Gill dihabiskan di sebuah kota kecil di Inggris. Sulung dari dua bersaudara ini hanya sedikit saja mengetahui tanah kelahiran ibunya, Australia. "Ibu saya adalah Inggris Australia. Saya lebih banyak mendengar tentang Australia dari cerita ibu saya. Baru di usia 20 tahun saya sempat mengunjungi Australia," kenangnya. Sejak itu pula warga negara Inggris ini merasa ada pengaruh kuat dari negeri kanguru itu.

Hampir sepanjang hidupnya, Gill mengabdikan diri untuk dunia pendidikan. Tapi ternyata ia sendiri sebelumnya tak pernah bercita-cita menjadi guru. Dunia bahasalah yang lebih dulu merebut perhatian Gill. "Awalnya saya sangat gemar belajar bahasa asing. Saat mengambil S1 saya belajar bahasa Prancis dan Jerman sekaligus," kata Gill.

Dalam proses belajar tersebut satu kali ia mesti tinggal di Prancis untuk mengajar bahasa dan menjadi asisten guru. "Sebelumnya saya tak ingin menjadi guru tapi karena ini otomatis berlaku untuk siswa bahasa, saya lakukan juga," ujar Gill. Di Prancis inilah Gill baru menyadari bahwa ada daya tarik tersendiri dari dunia pendidikan.

"Karena saya ingin mencari dunia yang berbeda, lagi pula saya merasa saya memiliki hubungan yang baik dengan pelajar yang sulit dan tak mau belajar dengan baik. Jadi saya pikir untuk apa menolak menjadi guru," kata Gill.

Saat kembali ke Inggris dan menyelesaikan S1 Gill mulai mantap untuk menjadi seorang guru. "Pekerjaan ini pula yang memberi kesempatan saya untuk mengunjungi banyak tempat," kata Gill. Meski sesekali mengajar anak-anak, Gill lebih memilih untuk mengajar orang dewasa yang memang bermotivasi untuk belajar bahasa Inggris.

Setelah menyelesaikan S1, pada 1980 Gill mulai melanglang buana. Langkah pertamanya adalah dengan mengajar di Amerika Selatan, tepatnya di Buenos Aires. Setelah selesai kontak selama dua tahun Gill mulai tertarik untuk mencari pekerjaan di British Council. Selesai Buenos Aires, Gill langsung berangkat ke Bogota. "Jadi memang lucu juga, karena saya memulai karier di British Council, tapi bukan di Inggris," katanya. Dengan masa kontrak selama satu tahun karier Gill langsung melejit menjadi direktur pusat bahasa.

Mungkin terkesan dengan prestasi Gill, dua tahun kemudian, British Council memberikan kesempatan kepadanya untuk meneruskan ke jenjang magister dengan beasiswa dari badan tersebut. Selesai meraih gelar magister, Gill memutuskan untuk bekerja secara tetap di badan tersebut. "Saya pikir ini adalah bentuk balasan saya atas kesempatan baik yang mereka berikan kepada saya."

Indonesia, Kenya, Argentina, Colombia, Jerman, Prancis, Malaysia, Singapura, Hong Kong, Rwanda, Bangladesh adalah negara-negara yang pernah dikunjunginya. Maka tak heran jika saat ini Gill menguasai enam bahasa sekaligus yaitu Inggris, Indonesia, Perancis, Jerman, Spanyol dan Swahili.

Rencananya dalam tiga bulan mendatang Gill juga akan menetap di Filipina untuk menjabat sebagai Direktur British Council di negara tersebut. "Saya sangat senang jika bisa menjadi role model bagi wanita Indonesia bahwa wanita juga bisa sukses. Mungkin tak perlu tiga kali kerja keras ya. Tapi paling tidak, mungkin dua kali kerja keras ya," katanya tertawa, tentang kesuksesannya.

Gill sendiri saat ini masih menjabat sebagai Deputy Director di British Council Indonesia membawahi sekitar 120 personil. Ia tinggal di Indonesia sejak 1993, maka tak heran jika ia cukup mengenal perkembangan Indonesia. "Saat pertama kali saya menginjakkan kaki di Indonesia, kondisinya sangat bagus. Saat itu Indonesia masih menjadi salah satu Asian Tigers. Ekonomi kuat, sumber daya cukup, ada banyak harapan saat itu. Tapi sejak terjadi krisis semuanya berubah. Saya ikut sedih melihat hal ini," kata Gill.

Hilangnya kesempatan banyak pihak untuk melanjutkan belajar baik di dalam dan di luar negeri membuat Gill prihatin. "Dolar melonjak terus, saya lihat banyak middle class yang semula bisa mendapat gaji yang besar tiba-tiba saja gaji mereka tak ada artinya. Tak bisa keluar negeri untuk belajar," katanya.

Namun ada satu hal yang membuat Gill terkesan pada orang tua Indonesia.

"Dalam keadaan yang demikian sulit saya melihat orang tua Indonesia punya tekad yang sangat bagus. Mereka rela bekerja keras agar anak-anak tetap bersekolah. Mereka begitu menghargai sekolah," kata Gill. Baginya ini adalah sesuatu yang sangat berharga. "Saya sering membandingkan dengan kondisi di Inggris. Sekolah, bagi anak-anak dan orang tua Inggris adalah hak yang secara otomatis dimiliki setiap anak. Jadi kadang mereka tampak kurang menghargai kesempatan bagus ini."

Namun, kata Gill, untuk menciptakan kondisi masyarakat yang lebih baik sektor pendidikan juga mesti mendapat perhatian lebih. "Saya pikir meski keadaan ekonomi kurang baik, mestinya pemerintah memberikan kepentingan anggaran untuk pendidikan yang sedikit lebih besar dibanding bidang lain misalnya saja, bidang pertahanan."

Sistem belajar mengajar di sekolah Indonesia juga tak luput dari perhatian Gill. "Sistem belajar mengajar seharusnya menjadi lebih aktif. Saat ini masih umum sekali, guru masuk ke ruang kelas bicara di depan dan murid duduk diam. Tanpa interaksi, tak ada belajar secara aktif," katanya.

Untuk itu, British Council saat ini sedang menjalankan proyek kecil untuk membantu guru-guru di sekolah dasar di Jawa Barat untuk mengajar lebih interaktif. "Kami membantu mereka untuk bisa mengelola kelas dalam kelompok kecil agar murid lebih banyak berpikir. Tidak hanya menerima fakta dari guru tapi juga belajar proses tantangan. Murid bisa lebih aktif bertanya. Ini adalah latihan menuju negara yang lebih demokratis," katanya.

Bukan hanya menjalankan program untuk anak-anak SD, Gill bersama British Council juga bekerjasama dengan Asian Development Bank untuk pengembangan bahasa Inggris di Indonesia sejak 8 tahun lalu. "Kami sering berkumpul bersama guru-guru bahasa Inggris untuk berbagi pengalaman mengenai mengajar bahasa Inggris. Karena menurut saya jika Indonesia ingin siap menghadapi globalisasi, maka mereka mesti menguasai komputer dan bahasa Inggris."

Tak hanya menjadi duta ‘bahasa Inggris’ selama ini Gill juga menjalankan promosi budaya Inggris. "Kami ingin masyarakat Indonesia juga mengetahui bahwa Inggris bukan hanya Westlife, Spice Girls dan Manchester United," katanya. Buat Gill budaya dan masyarakat Inggris juga sama beragamnya dengan Indonesia. "Banyak yang tak tahu bahwa Inggris juga terdiri atas banyak bangsa dan multikultural. Bahkan ada banyak warga muslim di sana, bahkan jumlahnya sampai ribuan."

Gill adalah orang pertama yang mencetuskan penyelenggaraan festival film Inggris di Indonesia. "Kami juga mulai menjalin kerjasama dengan Studio 21 hingga bisa lebih banyak film Inggris yang diputar di bioskop. Ini kerja yang pelan saja, tapi saya yakin kalau kami bisa membuktikan bahwa banyak anak muda yang suka pada film Inggris tidak melulu produk Hollywood," katanya. utami widowati

Biodata

Nama :

  • Gillian Westaway

Jabatan :

  • Deputy Director British Council

Lahir :

  • 27 April 1955

Kebangsaan:

  • Inggris

Pendidikan:

  • 1984-85 Master of Arts in Language and Literature in Education, Institute of Education,University of London, London (ULIE)
  • 1978-79 Post Graduate Certificate of Education (PGCE) in Teaching English to Speakers of Other Languages (TESOL), Institute of Education, University of London, London (ULIE)
  • 1973-77 Bachelor of Arts (BA) (Comb. Hon.) in French and German (2.1.), Exeter University.

Bahasa yang dikuasai:

  • Inggris, Indonesia, Prancis, Jerman, Spanyol dan Swahili

Kumpulan Artikel Tentang Perpus & Resensi Buku Terbitan Indonesia Any request? Please send to: librarian@infoperpus.8m.com

 

Home | Go | Asmak Malaikat | English Version