|
Melestarikan ajaran spiritual Asmak Malaikat warisan Sunan Muria (Wali Songo) Berguna untuk penyembuhan, keselamatan, percaya diri dan ketentraman batin. Terbuka untuk semua orang, Sudah Terbukti..!! Click disini>>
Arsip Artikel Perpustakaan dan Buku Terbitan Indonesia
|
|
|
| Suara Pembaruan, 27 Juni 2001 | |
Perpustakaan Batu Api yang Menebar Api |
|
PERPUSTAKAAN Batu Api di Jatinangor, Bandung, Jawa Barat, barangkali merupakan perpustakaan paling nyentrik di Indonesia. Kenyentrikan itu terlihat pada peraturan bagi peminjam buku koleksinya yang tertulis demikian, "Membaca buku lain harus bayar, tapi barang siapa meminjam buku karya Harmoko akan dibayar." Pengelompokan buku-buku di situ tidak menggunakan katalog, seperti pada perpustakaan umumnya. Contohnya, komik Donald Bebek dan komik-komik Jepang, dikelompokkan dalam "Buku Khusus Mahasiswa". Karya-karya sastra dari luar negeri ditandai dengan "Buku Kebelandaan, Kerusiaan, Keinggrisan". Sementara itu, buku sastra Jawa dinamai "Kejawaan". Deretan buku filsafat ditandai dengan "Tong dibaca" (jangan dibaca). Pendiri perpustakaan itu, Anton Solihin, mengatakan, istilah nyeleneh itu dipilih untuk menyindir mahasiswa. Khususnya di kawasan Jatinangor, lokasi kampus Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN), Institut Koperasi Nasional (Ikopin), Universitas Winaya Mukti (Unwim), dan Universitas Padjadjaran (Unpad). Para mahasiswa memiliki minat baca yang rendah dan murahan. "Kalaupun datang, mereka biasanya menanyakan komik atau buku seks. Atau, kalau sedang booming buku tertentu, baru perpustakaan jadi ramai. Kalau mereka tidak mendapatkan apa yang dicari, mereka langsung pulang ke tempat indekos tanpa sedikit pun melirik buku lain," katanya. Semula, Anton memperkirakan, perpustakaan Batu Api bisa menjadi "oase", terutama bagi mahasiswa yang kurang hiburan lantaran minimnya tempat melepas lelah di Jatinangor. Perkiraannya ternyata meleset. Padahal perpustakaan itu mengoleksi 5.000 judul buku, di antaranya buku sastra dari berbagai belahan dunia, buku agama, politik, dan buku-buku "kiri". Koleksi itu merupakan hasil keuletannya mengumpulkan sedikit demi sedikit. Sebagian besar buku diperoleh dari pasar loak Cihapit, Bandung. Sering ia nongkrong berjam-jam di situ, berburu buku kuno dan bermutu. "Biasanya, orang kaya yang tinggal di utara Bandung, memiliki perpustakaan sendiri. Setelah si empunya meninggal, keluarganya terkadang tidak mau merawat buku-buku itu. Akhirnya, bahan bacaan itu mereka jual ke pasar loak. Itulah kesempatan yang baik mendapatkan buku bermutu dengan harga murah," kata Anton (32). Sayangnya, niat membagi kesempatan dengan mahasiswa supaya gemar membaca koleksinya, disambut dingin. Buku-buku bermutu sangat sedikit peminatnya. Pengurus perpustakaan itu kemudian menyebarkan pamflet bernada menyindir di kawasan tersebut. Bunyinya, "Telah kutemukan agamaku: tak ada yang lebih penting dari buku. Aku memandang perpustakaan sebagai tempat ibadah," Jean Paul Sartre (Kata-kata membaca hal. 76). Satu lagi: "Nasihat Dosen kepada Mahasiswa: "Belilah Buku Saya!" Pancingan itu malah mendatangkan kecaman. Ada yang berkomentar, perpustakaan itu "ekstrem kiri", "tidak bermoral", atau "perpustakaan Kristen". "Ini lucu, sebab koleksi buku saya justru banyak mengenai Islam. Itu bukti bahwa mahasiswa sekarang hanya berani kasak-kusuk, tidak punya keinginan mencari bukti, dan tidak mau berdebat secara terbuka. Padahal, kalau mereka datang dan bertanya tentang maksud pamflet, pasti saya layani dengan baik," kata Anton. Sebagai bukti keprihatinannya, ia mengungkapkan, ada mahasiswa sastra Jerman yang telah tiga tahun kuliah, ternyata tidak mengenal nama Goethe. Ada juga mahasiswa sastra Jepang yang tidak kenal penyair Kawabata. Ia mengatakan lagi, banyak mahasiswa yang mencari buku hanya sebagai bahan menyelesaikan tugas kuliah, bukan karena keingintahuan mereka. Lebih dari seratus mahasiswa STPDN yang menjadi anggota perpustakaannya, lebih suka komik Donald Bebek ketimbang buku sastra. Padahal buku sastra, penting dibaca untuk mengasah perasaan dan kepekaan sosial. Meskipun demikian, Anton mengaku, belum menyerah. Ia membentuk komunitas mahasiswa dengan kegiatan berdiskusi, mengapresiasi musik etnik, film klasik, membuat puisi, menulis cerpen, dan membuat teater. Komunitas itulah yang membakar 30 judul buku, sejumlah keping CD (compact disk), dan kaset dalam kemasan happening art di kampus Unpad, baru-baru ini. Aksi itu untuk menyindir mahasiswa yang minat baca dan minat dengarnya, semakin amburadul. Namun, lagi-lagi Anton kecele terhadap reaksi mahasiswa. "Mereka sama sekali tidak tersindir," katanya. Yang membuat ia makin prihatin, setelah aksi itu, ada utusan badan mahasiswa tertentu, yang mengajaknya membakar buku di kampusnya. Ajakan itu hanya karena Anton dianggap berhasil menarik perhatian orang. Ia juga mengaku geli melihat reaksi media massa yang mewawancari artis yang CD-nya dia bakar. "Konteks yang ditanyakan kepada sang artis, ternyata sangat berbeda dengan apa yang saya maksudkan dalam kisah teatrikal tersebut. Herannya jawaban sang artis juga tidak sesuai dengan apa yang ditanyakan. Ini lucu," kata Anton lagi. Rieska Wulandari |
|
Kumpulan Artikel Tentang Perpus & Resensi Buku Terbitan Indonesia Any request? Please send to: librarian@infoperpus.8m.com |
|
|
Home | Go | Asmak Malaikat | English Version
|