Gratis Attunement dari Master Rama Narendra

Melestarikan ajaran spiritual Asmak Malaikat warisan Sunan Muria (Wali Songo)

Berguna untuk penyembuhan, keselamatan, percaya diri dan ketentraman batin.

Terbuka untuk semua orang, Sudah Terbukti..!! Click disini>>


 

 

Arsip Artikel Perpustakaan dan

Buku Terbitan Indonesia

 

Republika, 21 Mei 2000

Home | News Archives


Membuat Perpustakaan seperti Musik Dangdut


Menonton musik dangdut, banyak yang rela mengeluarkan biaya atau berjubel di lapangan meskipun matahari terik menyengat atau hujan mengguyur. Tapi membaca buku di perpustakaan, meskipun tak dipungut biaya dan nyaman berteduh di dalam ruangan, tak banyak yang suka.

Itu menjadi pekerjaan rumah Perpustakaan Nasional (Perpurnas) RI yang 17 Mei lalu berulangtahun. Dalam siaran persnya, Perpurnas menulis, ''...bagaimana menjadikan perpustakaan itu disenangi masyarakat layaknya musik dangdut. Ini yang menjadi pekerjaan rumah bagi kepala Perpurnas RI.''

Separah apa sebenarnya minat baca masyarakat Indonesia? Pimpinan Perpurnas RI, Hernandono, mengatakan, cuma satu persen penduduk Indonesia yang mau mengunjungi perpustakaan. Lantas yang lainnya? Ada yang memang benar-benar tidak tahu perpustakaan karena memang tidak ada di lingkungannya. Ada juga yang tahu tapi enggan mengunjungi perpustakaan. Selebihnya mereka yang tahu tapi tidak berminat sama sekali mengunjungi perpustakaan.

Yang pertama, masyarakat yang benar-benar tidak tahu perpustakaan. Kondisi ini sebenarnya bisa dimaklumi. Karena berdasarkan catatan Perpurnas, keberadaan perpustakaan khusus di sekolah-sekolah dan perpustakaan umum di desa dan kecamatan, masih sangat terbatas.

Simak catatan berikut. Dari sekitar 200 unit Sekolah Dasar di Indonesia, diperkirakan cuma 1 persen yang memiliki perpustakaan standar. Demikian juga dari sekitar 70 ribu unit SLTP, cuma 36 persen yang memenuhi standar. Dan dan sekitar 14 ribu unit SMU, cuma 54 persen yang punya perpustakaan kualitas standar. Kemudian untuk perguruan tinggi, dari sekitar 4 ribu perguruan tinggi di Indonesia, cuma 60 persen yang memenuhi standar.

Yang menyedihkan lagi adalah perpustakaan umum di daerah-daerah. Untuk tingkat desa dan kecamatan (diperkirakan ada 70 ribu desa dan 9 ribu kecamatan di Indonesia), tak lebih dari setengah persen yang memiliki perpustakaan standar. Sedang untuk Daerah Tingkat II, ada 70 perpustakaan dari sekitar 316 DT Tk. II.

Pengertian perpustakaan standar ini, jelas Kepala Bidang Pembinaan Sumberdaya Perpustakaan Nasional, Rachmat, adalah perpustakaan yang tidak sekadar sebuah almari yang berisi buku-buku. Yang mana almari tersebut lebih banyak dikunci dari pada dibuka. Tetapi perpustakaan yang menyajikan buku-buku cukup menarik minat baca.

Mengapa kondisi seperti ini terjadi. Jawabanya tentu ke persoalan klasik: masalah dana. Tanpa menyebut angka, Hernandono menyatakan anggaran negara untuk Perpusnas sang minim. Itu pun seringkali dijadikan objek pemotongan bila kebutuhan negara membengkak.

Melihat kondisi ini masuk akal bila banyak masyarakat yang tak tahu perpustakaan. Bahkan yang mengetahui sekalipun banyak juga yang tak bisa membedakan antara perpustakaan khusus, perpustakaan umum, dan perpustakaan nasional. Dituturkan oleh Rachmat, banyak pengunjung perpustakaan nasional yang mengeluh tak bisa meminjam buku di sana.

''Padahal perpustakaan nasional itu berbeda dengan perpustakaan umum. Di perpustakaan umum buku bisa dipinjam. Tetapi di perpustakaan nasional tidak bisa. Cuma bisa dibaca di tempat. Itu sudah peraturannya,'' ungkap Rachmat.

Tak bisa meminjam adalah salah satu alasan mengapa banyak masyarakat yang enggan ke perpustakaan meskipun mereka tahu. Alasan lain soal birokrasi. Sudah sejak lama berkembang anggapan bahwa perpustakaan identik dengan birokrasi. Masih terkesan berbelit-belit. Ditambah lagi pelayanan yang kurang simpatik. Sehingga menambah kesan 'seram' bila mengunjungi perpustakaan.

''Coba kalau pegawai perpustakaan itu seperti pegawai bank yang melayani nasabahnya dengan manis,'' ungkap Rachmat berandai-andai. Meskipun ia sebenarnya tahu persis bahwa sangat tidak seimbang membandingkan pegawai bank dengan penjaga perpustakaan.

Sementara itu, di sekolah-sekolah, kesempatan murid-murid membaca buku-buku di perpustakaan cuma terbatas pada waktu istirahat. Itupun cuma 15 menit. Padahal, sebagaimana normalnya anak-anak SD dan SLTP, saat istirahat adalah saat-saat bermain. ''Bila waktu bermain anak-anak enggan ke perpustakaan, itu wajar,'' kata Rachmat.

Ia menuturkan lagi, ada 12 kriteria mengapa pendidikan di Indonesia ini gagal. Salah satunya adalah sikap guru yang seperti diktator dalam hal memberi ilmu pengetahuan. ''Kebanyakan mereka tidak pernah mengatakan why dan how,'' jelas Rachmat.

Seharusnya anak didik ditantang untuk mngetahui sendiri kebenaran dari cerita sang guru. Menumbuhkan keinginan siswa untuk menggali lagi lebih dalam apa yang diajarkan di ruang kelas. Untuk itulah mereka perlu perpustakaan.

Dua golongan terdahulu sebetulnya bisa diminimalkan. Mewajibkan setiap sekolah, perguruan tinggi, instansi, dan daerah untuk memiliki perpustakaan yang standar barangkali adalah salah satu alternatif memperbanyak jumlah perpustakaan di tanah air. Atau setidaknya memberdayakan yang sudah ada, bila perpustakaan itu belum memenuhi standar.

Perihal dana, sebetulnya bisa diupayakan dari bantuan berbagai pihak. Buktinya, World Bank sendiri sudah mulai membuka diri untuk memberikan pinjaman lunaknya. Menurut khabar, bulan Juni mendatang akan mengucur dana 5 juta dolar US, yang bila dirupiahkan akan mencapai Rp. 40 miliar.

Ini diakui oleh Rachmat. Untuk bantuan tahap pertama ini, tuturnya, rencananya akan dialirkan untuk membantu membina dan mengembangkan sekitar 800 perpustakaan di tiga propinsi. Yaitu Jawa Tengah, NTB, dan Sematera Selatan. Berdasarkan survey, memang ketiga propinsi inilah yang paling siap mengelola bantuan tersebut. Ini terlihat dari respon yang diberikan pemerintah daerah tingkat II di tiga propinsi ini. Bila kegiatan ini nantinya dinilai berhasil, tak menutup kemungkinan untuk meningkatkan kerjasama itu untuk daerah-daerah lain.

Selain itu, memperbaiki sistem pelayanan dengan meminimalkan birokrasi agar lebih efisien agaknya menjadi sesuatu yang mutlak saat ini. Intinya, masyarakat dibuat tertarik untuk mengunjungi perpustakaan. Bila perlu sediakan tempat bagi perpustakaan nasional untuk buku-buku yang bisa dipinjam.

Untuk ide yang satu ini, Perpurnas agaknya sudah mulai mengembangkannya. Racmat menjanjikan, tidak lama lagi Perpurnas akan menyediakan sebuah tempat yang mana pengunjung bisa meminjam buku di sana. Tentunya buku-buku yang dipinjam ini bukan koleksi langka, tetapi buku-buku populer. (mahladi)


Kumpulan Artikel Tentang Perpus & Resensi Buku Terbitan Indonesia

 

Home | Go | Asmak Malaikat | English Version