ANGGI
Restu dan Sigit sama-sama bingung, kemudian akhirnya tergelak lepas. Mereka lemparkan
hasrat membeli buku pada pameran buku Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) di Jakarta
Convention Centre (JCC) tanggal 17-22 Oktober, entah kepada siapa selain kepada
kebingungan mereka masing-masing. Sementara orang terus saja lalu-lalang, tampak tak hirau
dengan gelak-tawa Anggi maupun Sigit.Saya seperti ingin memborong semua buku yang
dipamerkan di sini karena memang bagus-bagus," kata Anggi Restu, siswa Sekolah
Menengah Umum (SMU) 35 Jakarta. Tetapi, cepat-cepat ia menarik perkataannya bahwa mana
mungkin dia dapat melakukan hal itu, sedangkan untuk membeli sebuah buku saja dia merasa
tak sanggup, padahal buku tersebut sangat diperlukannya.
Sebuah buku penuntun Ujian Masuk
Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) diperlukan Anggi karena setelah menyelesaikan SMU, dia
memang berhasrat melanjutkan pendidikan di bangku kuliah. "Harganya duapuluhan (Rp
20.000 lebih-Red.)," kata Anggi yang berbadan kecil sambil membulatkan matanya. Dia
menyambung kalimatnya sendiri dengan tangkas, "Bagi saya, itu mahal, ya, entah bagi
orang lain."
Demikian pula Sigit asal Solo yang mengaku
sebagai penganggur. "Saya menyenangi bidang pertanian dan berusaha bertani dengan
baik, misalnya, menanam sayur dalam pot. Tetapi, buku-buku petunjuknya meskipun menarik
karena berwarna dan segala macam, terlalu mahal buat saya. Ya, tak bisa beli," kata
Sigit yang ulang-alik Jakarta-Solo dalam lima tahun terakhir.
Jangan tanya Anggi dan Sigit, mengapa hal
itu bisa terjadi. Jangan pula ditanya bagaimana cara mengatasinya. Paling-paling Anggi
harus menyisakan uang jajannya yang tak sering diperoleh. Kalau Sigit, ia lebih memilih
memendam keinginannya entah sampai kapan- sama seperti keinginannya untuk dapat
melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi pada jalur pertanian beberapa tahun lalu.
***
SUDAH dapat diduga, kisah pendek Anggi dan
Sigit itu merupakan satu kisah dari sejumlah cerita nasib perbukuan. Kisah lain masih
banyak yang menurut istilah Djauzak Ahmad, pengamat dan mantan praktisi pendidikan,
sebagai benang kusut. "Persoalan buku dikepung oleh banyak hal yang tak mudah
dibenahi karena sudah menjadi benang kusut. Kita tidak tahu harus memulainya dari
mana," katanya.
Pengepung yang terbaru dan agresif itu
adalah televisi. Meskipun tidak untuk dipertentangkan, dengan beberapa stasiun layar kaca
patutlah diakui bahwa televisi sangat banyak menyedot waktu. Pada anak-anak sekolah di
negara maju yang tradisi membacanya tak alang kepalang saja, disebutkan sejumlah pakar,
"memberikan" waktu mereka kepada tayangan televisi 60 jam-90 jam per pekan. Apa
lagi di Indonesia tentunya yang masih didominasi tradisi lisan-sejalan dan sebangun dengan
wadah komunikasi televisi.
Adalah Ketua Ikatan Penerbit Indonesia
(Ikapi), Arselan Harahap, yang mengatakan bahwa ada hubungan yang kuat antara kesempatan
membaca dengan waktu yang tersedot untuk televisi tersebut. Sebelum pemerintah mendirikan
TVRI tahun awal 1960-an, produksi buku Indonesia sekitar 1.500 judul per tahun. Setelah
itu, produksi buku Indonesia tinggal 700 judul. Meskipun cenderung meningkat sampai tahun
1995 bahkan sempat mencapai angka 5.800 judul, hal tersebut harus dikaitkan dengan
peningkatan jumlah penduduk dan perbaikan ekonomi.
Maka ketika ekonomi Indonesia terpuruk,
seperti sektor yang lain, produksi buku pun terpuruk sampai hanya 1.200-an judul pada
tahun 1998 dan diperkirakan hanya memproduksi sekitar 2.500 judul pada tahun 2.000 ini.
Dari 626 penerbit yang tercatat sebagai anggota Ikapi, sekitar 60 persen di antaranya
hanya menjual buku-buku stok lama dan cetak ulang, disusul hanya 10 persen saja penerbit
menerbitkan buku-buku baru. Lebih celakanya lagi, tak kurang dari 100 penerbit ternyata
harus gulung tikar.
Bagaimana tak termegap-megap. Seiringan
dengan runtuhnya mata uang rupiah, harga kertas senantiasa melambung. Harga kertas isi dan
sampul buku sejak September 1997 membumbung dari Rp 2.350 menjadi Rp 6.000-an per
kilogram. Jangan lupa pula harga bahan-bahan percetakan buku lainnya seperti tinta dan
plat yang sebagian besar masih mengharapkan kiriman dari luar negeri. Maksudnya, kiriman
dari luar negeri itu menuntut dollar AS, sedangkan nilai rupiah terhadap dollar AS
senantiasa saja berada pada jurang yang amat dalam.
Tragis nasib yang menimpa PT Pustaka Utama
Grafiti yang dikenal sebagai penerbit berkualitas tinggi dan cukup besar. Mereka harus
tiarap sangat rapat ke tanah, bahkan toko buku perusahaan itu di gedung Slipi Plaza, tak
luput dari amuk massa pada Mei 1998 sebagai korban. Toko buku Grafiti di berbagai tempat
seperti di Depok, Kelapa Gading, dan Pasar Seni Ancol, juga harus menutupkan pintunya.
Kesuraman Grafiti tersebut masih jelas terbaca dalam pameran buku Ikapi 2000 di JCC
Jakarta, ketika gerai (stand) penerbit ini tampak terisi seadanya.
***
TERLALU banyak alasan bahkan helah (alasan
yang dicari-cari), mengapa keadaan perbukuan Indonesia seperti itu. Alasan pertama, memang
masyarakat kita masih memiliki tradisi lisan yang kental dan tak mudah ditanggalkan oleh
tradisi tulis. Ini seperti memperoleh tempat untuk membiak ketika anak-anak kita tidak
memperoleh bimbingan agar mencintai buku dan hantaman televisi di atas.
"Sejak akhir tahun 1970-an, anak-anak
sekolah kan tidak dibimbing lagi untuk membaca buku," kata Djauzak, mantan guru dan
Direktur Pendidikan Dasar Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud). Sambil
mengutip penelitian Taufiq Ismail yang membandingkan bacaan siswa Indonesia (0 buku),
Malaysia (enam buku), dan Amerika (30-an buku) selama di SMU, Djauzak menambahkan,
kenyataan tersebut cukup memprihatinkan.
Anggi dan Sigit, punya cerita sejalan
dengan kenyataan bimbingan untuk mencintai buku di sekolah tersebut. Sejak di SD, kata
Anggi, sampai ia sudah harus menginjak pendidikan tinggi beberapa bulan lagi, baru sekali
dia membuat ringkasan sebuah buku fiksi (karya sastra) atas permintaan guru. Sementara
Sigit yang baru beberapa tahun lulus SMU tidak pernah diminta berbuat serupa dengan Anggi.
"Saya membuat ringkasan sendiri juga, tetapi untuk memudahkan saya menghafal
pelajaran," katanya.
Masalahnya bukan saja di sekolah, tetapi
juga di masyarakat. Sejauh mana bimbingan diberikan orang tua, patut menjadi perhatian.
Mengutip penelitian suatu perguruan tinggi di Yogyakarta, Khaerudin Kurniawan, menulis
bahwa hanya 15 persen saja perhatian orang tua yang memberikan sumbangan terhadap
kemampuan membaca anak, sedangkan 85 persen lagi diberikan oleh guru. Ini berbeda jauh
dibandingkan dengan Amerika. Waktu tatap muka siswa-guru di negara tersebut hanya lima
persen, lalu 95 persen lagi diperoleh dengan kegiatan siswa membaca baik di rumah maupun
di sekolah atau di perpustakaan.
Ketika membanding-bandingkan dengan negara
lain itulah, persoalan perbukuan Indonesia terasa makin gelap. Malaysia saja yang
penduduknya sekitar 10 persen dari penduduk Indonesia, menghasilkan 7.000 judul buku per
tahun, sedangkan Thailand mencapai 10.000 judul. Indonesia baru menghasilkan buku paling
tinggi 5.800 judul per tahun. Pastilah tak ada yang membantah bahwa setidak-tidaknya
kenyataan itu menunjukkan, betapa bopengnya wajah penggapaian ilmu pengetahuan kita di
tengah zaman teknologi dan informasi ini.
***
AKAN berjela-jela panjangnya ihwal
kesuraman dan alasan terjadinya kesuraman tersebut kalau disebut satu per satu. Apalagi
setiap bentuk kesuraman "menghasilkan" kesuraman yang lain dan seterusnya.
Begitu pula saat menyebutkan alasan terjadinya suatu kesuraman yang senantiasa
"membuahkan" hal lain. Keterangan untuk alasan dan helah pun akan sangat
melelahkan sekali.
Ambil saja contoh tentang guru yang di
Indonesia amat berperan dalam menumbuhkan minat baca siswa (85 persen). Lalu, dari sini
akan muncul pula pertanyaan sejauh mana mereka bisa berbuat dalam masalah ini, sehingga
minat baca penduduk amat buruk. Tetapi, belum sempat hal tersebut dibicarakan, sudah
muncul pula persoalan lain yakni mengapa semuanya harus dibebankan kepada guru seberat
beban hidup mereka karena gaji yang tidak memadai. Bagaimana kalau gaji guru dinaikkan,
lalu dari mana uang untuk itu diraih, dan seterusnya...,dan seterusnya....
Begitu pula tentang nasib pengarang yang
jangankan bergantung hidup pada penulisan buku, "membantu" tuntutan keseharian
pengarang pun, masih bernapas sesak. Beberapa penulis karya sastra seperti Ayu Utami lewat
penerbitan romannya Saman yang sudah cetak ulang sampai belasan kali sejak tahun 1999,
barangkali merupakan pengecualian. Tetapi, bagaimana persoalan mendatang dan sekian banyak
penulis lain yang karyanya amat layak dibaca dan perlu?
Sebaliknya, berbagai pihak seperti sebuah
lagu koor yang sanggam (harmonis) menyepakati bagaimana pentingnya buku dan membaca. Pada
zaman Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, juga pada masa duet Abdurrahman Wahid-Megawati
Soekarnoputri, kepentingan terhadap keberadaan buku senantiasa digembor-gemborkan. Ekonomi
tak akan mencapai angka-angka tanpa buku, juga politik, dan segala macam termasuk
masyarakat awam. Mereka yang dulu, sekarang, dan akan datang, tak mungkin mengelak dari
ungkapan, "Buku adalah jendela dunia".
Tanpa mengurangi rasa hormat kepada
pribadi-pribadi yang tercerahkan dan telah berusaha memperoleh buku baik untuk dirinya
pribadi maupun sekelompok orang, patutlah ditanyakan, "Apakah sebenarnya yang sudah
kita lakukan untuk perbukuan? Bukankah kita sebenarnya tidak pernah melakukan apa-apa
terhadap sesuatu yang kita inginkan, terhadap sesuatu yang amat kita perlukan".
Tak sedikit orang berteriak, misalnya, agar
pemerintah berupaya memurahkan harga jual buku. Turunkan harga pengiriman buku, turunkan
harga bahkan subsidi kertas kepada penerbit, hilangkan berbagai pajak seperti Pajak
Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Dalam Kongres Ikapi ke-14 tahun 1998,
Presiden BJ Habibie menyatakan pembebasan PPN 10 persen terhadap buku yang kemudian
berbuah dengan ketidakperluan rekomendasi Depdikbud dan Departemen Agama. Berbagai konsep
pengaturan perbaikan perbukuan dibuat, misalnya, konsep dewan buku nasional.
Cuma saja, Habibie tersandung di Senayan
yang entah bagaimana pula caranya menyebabkan berbagai kebijakan buku yang dirancang pada
zaman peralihan itu ikut pula tersungkur. Setidak-tidaknya, setelah setahun berjalan,
kepemimpinan Abdurrahman Wahid-Megawati, belum membuahkan sesuatu yang berhubungan dengan
buku (baca: Para Penerbit, Teruslah Berjuang!).
Wakil Presiden Megawati ketika membuka
pameran buku Ikapi 2000 tanggal 17 Oktober, tampaknya tak menyinggung lagi soal pajak dan
permintaan Ikapi agar pemerintah turun tangan untuk memurahkan harga buku. Putri Bung
Karno itu, malah mengulangi lagi ungkapan-ungkapan lama tentang bagaimana orang diajak
mendokumentasikan pikiran dalam bentuk buku. "Masyarakat pun tampaknya diam saja. Tak
ada kan lembaga swadaya masyarakat dan mahasiswa meneriakkan keberadaan buku," kata
Ketua Ikapi, Arselan Harahap.
Syahdan, mungkin "mudah saja
soalnya". Sebuah jendela dunia, ya, memang tak dapat dipungkiri bahwa buku merupakan
jendela dunia. Tetapi, di Indonesia, jendela itu masih tertutup. Tidak tertutup rapat
memang, tetapi diibaratkan dari jendela tersebutlah cahaya menerobos ke dalam rumah, jelas
bahwa simbahannya tak leluasa masuk ke dalam rumah bernama Indonesia. Wajarlah kalau
negara ini begitu pengap dan gelap... (Taufik Ikram Jamil) |