|
Melestarikan ajaran spiritual Asmak Malaikat warisan Sunan Muria (Wali Songo) Berguna untuk penyembuhan, keselamatan, percaya diri dan ketentraman batin. Terbuka untuk semua orang, Sudah Terbukti..!! Click disini>>
Arsip Artikel Perpustakaan dan Buku Terbitan Indonesia
|
|
|
| Detik, 27 Juli 2000 | |
Koleksi Buku Kuno: Tiga "Gudang" Buku Jawa Kuno di Solo |
|
| Reporter: T. Supriyadi detikcom - Jakarta, Senin, 17/07/2000 Menyebut nama Solo, orang mungkin lebih ingat Keraton sebagai pusat kebudayaan Jawa. Tapi, mempelajari kebudayaan Jawa berikut keraton, tidaklah cukup hanya dengan melihat bangunan Kasunanan dan Mangkunegaran. Setidaknya ada tiga "gudang" yang menyimpan sumber-sumber tertulis untuk dipelajari, yakni Radyapustaka, Reksa Pustaka Mangkunagaran, dan Sasana Pustaka. Ketiga-tiganya berada di pusat kota Solo. "Bukunya, ya sangat banyak. Wong sejak 28 Oktober 1890 sudah dirintis. Hanya resminya (dijadikan museum) saja yang tahun 1913," ungkap Kepala Museum Radyapustaka KRHT Darmodipuro yang lebih dikenal dengan Mbah Hadi tanpa menyebut berapa jumlah pastinya. Sebagai bagian dari museum, perpustakaan ini tidak begitu banyak pengunjungnya. Kalaupun ada yang sengaja datang ke perpustakaan sudah dapat dipastikan bahwa pengunjung tersebut pastilah mahasiswa. Terutama mahasiswa yang sedang menyusun skripsi atau disertasi. Mereka, selain dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) dan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, ada juga yang datang dari Yogyakarta, Semarang, dan Jakarta. "Orang Jerman juga ada yang kesini untuk belajar tentang keris. Dan sekarang katanya sudah bisa membuat keris sendiri," tambah Mbah Hadi. Sayangnya, bangunan yang semula adalah milik seorang Belanda, Johannes Busselaar, dan dikenal oleh masyarakat dengan "loji kadipolo" ini kurang mendapat perhatian pemerintah, dalam hal ini Pemerintah Daerah Surakarta. Padahal, harus diakui bahwa tempat-tempat tersebut adalah aset sejarah dan sumber ilmu pengetahuan yang dengan koleksi sumber-sumber tertulis yang memadai. Naskah-naskahnya hampir seluruhnya berbahasa Jawa dan ditulis dengan huruf Jawa Kuno. Tidak adanya katalog yang dapat membantu pengunjung mencari buku menunjukkan pengelolaan yang kurang profesional. Kesulitan pengunjung mempelajari kebudayaan Jawa berikut Keraton karena naskah-naskahnya menggunakan bahasa dan huruf Jawa ini seketika akan hilang apabila Anda berkunjung ke Perpustakaan Reksa Pustaka Mangkunagaran. Di perpustakaan yang didirikan oleh Sri Mangkunagoro IV pada 11 Agustus 1967 ini, pengunjung di samping dapat menemukan naskah asli bahkan mem-fotocopy-nya. Naskah-naskah salinan dalam bahasa Jawa yang ditulis dengan huruf latin atau pun yang berbahasa Indonesia dapat ditemukan pula di sini. Wajar, kalau kemudian perpustakaan ini menjadi tempat favorit para mahasiwa yang butuh literatur. Semula buku-buku koleksi perpustakaan yang terletak di Jl. Ronggowarsito ini, oleh Sri Mangkunagoro IV yang juga seorang pujangga itu, hanya dikhususkan untuk para abdi dalem. Koleksinya pun masih terbatas. Menurut katalog tahun 1877 yang sampai saat ini masih tersimpan rapi, sebagian besar koleksinya terdiri dari buku beraksara Jawa berupa naskah asli atau tedhakan (turunan) maupun dalam ujud cetakan. Ada Alkitab (perjanjian lami) yang tebalnya 2.821 halaman. Karya-karya Sri Mangkunagoro IV, literatur seperti babad, menak, cerita wayang, pakem wayang, injil, piwulang, cerita Islam seperti serat Ambya juga terdapat dalam daftar tersebut. Di samping itu, pada nomor 226 disebutkan 18 buku Landi/Belanda, tetapi tidak disebutkan judul-judulnya. Pada perjalanan selanjutnya oleh Sri Mangkunagoro VII ijin ini diperluas. Masyarakat umum boleh membaca. Pada periode inilah Reksa Pustaka Mangkunagaran mengalami perkembangan pesat. Koleksinya berlipat ganda, baik yang berbahasa Jawa maupun yang berbahasa asing, terutama Belanda, Inggris, Perancis, dan Jerman. Usaha-usaha untuk menyalin naskah-naskah Jawa lama ke dalam bahasa Indonesia pun terus dilakukan. Sehingga jangan heran, kalau Anda berkunjung ke bangunan yang terletak di bagian timur Pura Mangkunagaran ini pasti menjumpai petugas keraton yang sedang asyik masyuk menulis sepanjang hari. Mereka, para petugas ini, selain bertugas melayani pengunjung, juga dituntut kemampuannya untuk melakukan alih aksara dan alih bahasa (transkripsi dan transliterasi). Sampai saat ini sudah lebih dari 6000 halaman folio karya alih bahasa tentang Budaya Jawa dan Mangkunagaran. Selain mengoleksi buku-buku kuno, Reksa Pustaka Mangkunagaran juga menyimpan arsip-arsip sejarah lain seperti foto, prasasti, lontar/rontal, album, dan surat-surat. Tercatat ada tiga buah lontar Smaradahana yang merupakan surat yang diterima Sri Mangkunagoro VII dari Raja Karangasem, Bali. Berbeda dengan Radya Pustaka dan Reksa Pustaka Mangkunagaran, Sasana Pustaka yang terletak di dalam kompleks Keraton Kasunanan Surakarta relatif lebih tertutup, kalau tidak mau disebut birokratis. Bila Anda mahasiswa, siapkanlah surat ijin dari kampus anda dahulu sebelum Anda masuk ke ruang yang terletak di sebelah Selatan Sasana Andrawina ini. Karena, bila tidak, jangan harap Anda dapat masuk, apalagi membaca. Di samping terkesan birokratis, pengunjung juga tidak bisa mlihat koleksi buku secara langsung sebagaimana di Radya Pustaka dan Reksa Pustaka Mangkunagaran. Pengunjung hanya boleh melihat katalog kemudian meminta petugas untuk mencarikan buku yang telah dipilih, barulah Anda dapat membacanya. (one) |
|
Kumpulan Artikel Tentang Perpus & Resensi Buku Terbitan Indonesia |
|
|
Home | Go | Asmak Malaikat | English Version
|