Awas Lubang Buaya
[ Previous ]
[ Next ]
Cerita ini teriadi ketika Marcos masih berkuasa di Filipina dan Ibu
Tien masih hidup. Suatu kali Imelda harus mewakili suaminya mengadakan
kunjungan kenegaraan ke Indonesia. Pemerintah Indonesia betul-betul mempersiapkan
penyambutan serius terhadap ibu negara yang terkenal kecantikannya itu.
Soeharto dan Tien turut menjemput Imelda di Bandara. Ketika pesawat
pesawat militer Filipina yang membawa Imelda beserta rombongan mendarat
keluarlah seorang perempuan dengan rok menyala warna merah. Ia turun dengan
langkah anggunnya yang langsung menerima kalungan bunga dari Soeharto.
Pak Harto sendiri terkagum-kagum melihat kecantikan Imelda yang meski
telah cukup berumur tapi kulitnya yang putih masih tampak kencang.
Ketika sampai di Wisma Negara, rupanya Soeharto tak lagi bisa menyembunyikan
rasa kagumanya. "Anda betul-betul cantik sekali."
"Ah, Anda juga tampan kok," ujar Imelda yang mengundang kecemburuan
Ibu Tien.
Rupanya bincang-bincang yang dilakukan secara khusus itu kian menjurus.
Soeharto lantas bilang dengan nada berbisik, "Saya mau terus terang ya.
Begini saya secara khusus sebetulnya telah menyediakan Monumen Nasional
Monas yang telah berdiri tegak dengan gagahnya khusus untuk Anda."
Imelda sambil tersenyum-senyum rupanya tak mau kalah. "Ah ya. Omong-omong
saya juga telah mempersiapkan rumput Manila yang secara khusus didatangkan
dari Filipina."
Rupanya Bu Tien yang berada di dekat Soeharto mendengar jawaban Imelda
atas ucapan suaminya itu. "O-ala, Pak! Lha kok Anda cari rumput dari Manila
segala. Di sini kan sudah ada keong emas," ucap Bu Tien sambil menunjuk
bagian tubuh yang dimaksudkannya.
Dan ketika rayuan antara Soeharto dan Imelda kian menjurus, Bu Tien
jadi tak sabar lagi. "Awas lho, Pak! Saya ingatkan bahwa di situ juga ada
Lubang Buaya yang pernah menelan nyawa tujuh Pahlawan Revolusi," ujar Bu
Tien sambil kembali menunjuk sebuah bagian tubuhnya yang kontan bikin wajah
Pak Harto jadi pucat pasi.
[ Daftar isi ]
[ Next ]