Ingin di Kubur di
Jerusalem
[ Previous ]
[ Next ]
Merasa usianya kian uzur, Soeharto perlu membuat wasiat tempat di mana
ia harus dikubur bila kelak mati. Mungkin ia terpengaruh berita yang gencar
soal wasiat mendiang Presiden Soekarno yang berkeingnan agar dimakamkan
di Kebun Raya Bogor.
Soeharto segera mengumpulkan para penasehat spiritual dan paranormal
istana, menteri kabinet, pimpinan angkatan bersenjata, putra-putri dan
para sahabatnya.
"Saya sudah tua, mungkin sebentar lagi saya mati. Menurut kalian sebaiknya
jenasah daripada saya dimakamkan dimana?" tanya Soeharto dengan senyumnya
yang khas.
"Bukankah menurut kesepakatan keluarga, Bapak akan dimakamkan disamping
makam ibu di Astana Giri Bangun?" tanya Mbak Tutut.
Seperti biasa, Soeharto manggut-manggut. "Tidak, saya berubah pikiran,"
katanya. Mbak Tutut dan anak-anak presiden yang lain terkejut, namun tidak
berani memprotes.
"Kelak jika saya mati saya ingin dimakamkan di Bukit Golgota, di luar
kota Jerusalem, tempat Nabi Isa disalibkan," lanjut Soeharto dengan wajah
yang serlus. Orang-orang yang hadir kontan terkejut dengan wasiat Soeharto
ini.
Lukman Harun, tokoh Anti Zionis yang juga hadir tak bisa menyembunyikan
rasa tidak setujunya. Apalagi Nabi Isa adalah Tuhan bagi orang Kristen.
"Bapak Presiden, ini tak mungkin dan amat berbahaya. Wilayah itu kan
diduduki Zionis Israel dan kita sejak dulu anti-Zionis. Dunia Arab dan
kelompok-kelompok anti-Zionis di tanah air akan marah kepada bapak jika
ini terjadi. Dampaknya akan terkena juga kepada putera-putera dan cucu
bapak yang akan Bapak tinggalkan," kata Lukman berapi-api
"Saudara Lukman. Itu sangat tidak mungkin. Karena setelah tiga hari
saya dikuburkan, saya akan bangkit dan berkuasa lagi untuk selama-lamanya.
Dan tak seorang pun akan punya nyali untuk mengusik daripada saya," kata
Soeharto.
[ Daftar isi ]
[ Next ]