Jangan Minta yang
Satu Itu
[ Previous ]
[ Next ]
Suatu malam, lewat mimpi Malaikat Jibril mendatangi Soeharto. Jibril
mengatakan pada Harto, bahwa waktunya sudah tiba untuk segera meninggalkan
dunia.
"Kamu sudah terlalu lama berkuasa," ujar Jibril.
Soeharto pun minta waktu untuk mempersiapkan diri. Ia ingin membagikan
warisannya yang sangat banyak kepada anak-anaknya secara adil.
Keesokan harinya ia mengumpulkan seluruh anak cucunya. Turut menyaksikan
adalah sejumlah pejabat tinggi negara yang dekat dengan kalangan keluarga.
"Begini, saya akan segera mati. Saya ingin mewariskan apa yang saya
miliki kepada kalian semua. Tolong sebutkan satu-persatu permintaan kalian,"
ujar Soeharto.
"Ayahanda, saya minta semua jalan tol, stasiun televisi, vaksin polio
dan...," pinta Tutut.
"Ayahanda, saya minta tempat judi terbesar di dunia dan semua tambang
minyak," pinta anak ke dua, Sigit.
"Ayahanda, saya minta stasiun televisi, monopoli plastik, ponsel, satelit,
dan ...," ucap Bambang.
"Ayahanda, saya minta jembatan, bank, reksadana, galeri, dan...," ucap
Titiek.
"Ayahanda, permintaan saya tak banyak. Saya cuma minta hak monopoli
cengkeh, mobil nasional, supermarket, sirkuit balap, tanker, pesawat terbang,
LNG, dan ... dan ...," pinta Tommy yang merupakan anak kesayangan.
Harto meminta agar para pejabat tinggi mencatat semua permintaasn anak-anaknya
secara rinci. Tapi rupanya belum semua anak Soeharto menerima warisan.
Si anak bungsu, Mamiek, belum mengajukan permintaan apa pun. Sedari awal
pertemuan ia tampak hanya menundukkan mukanya. Wajahnya memerah, malu-malu.
Soeharto yang tak tahan dan ingin mengetahui permintaan anak bungsu
yang paling dicintai almarhumah istrinya itu lantas bertanya, "Anakku yang
paling ayu, ayo, jangan sungkan-sungkan. Semua kakakmu sudah mengajukan
permintaan. Permintaanmu sendiri apa?"
Mamiek tak menjawab. Sambil menundukkan wajahnya, ia hanya menggigit-gigit
kukunya. Dan ketika didesak, Mamiek hanya bilang, "Ah...malu, Pak."
"Oalah Nduk, sebutkan semua permintaanmu niscaya semuanya aku kabulkan.
Tapi jangan minta yang satu itu. Yang itu aku sudah tak punya," ujar Soeharto.
[ Daftar isi ]
[ Next ]