Kampanye
[ Previous ]
[ Next ]
Ini cerita beberapa bulan yang lalu, ketika sedang rame-ramenya kampanye
Pemilu. Tutut sedang giat berkampanye di sebuah kota kecil di Irian Jaya.
Ribuan rakyat dikumpulkan oleh Pemda buat menyambut beliau di lapangan
kota W. Bendeta dan umbul-umbul dipasang. Meriah. Dan rupanya suatu kebiasaan
di situ bahwa rakyat dengan gegap gempita menyambut setiap ucapan para
pembesar.
Tutut berpidato: "Saudara-saudara, dalam rangka pembangunan nasional,
pemerintah akan meningkatkan usaha untuk menciptakan masyarakat yang adil
dan makmur!".
Rakyat setempat: "Wiloo-wiloo, wiloo-wiloo!".
Tutut meneruskan: "Jangan sampai saudara-saudara mau dihasut oleh gerakan
separatis yang ingin mengacaukan stabilitas!".
Rakyat setempat: "Wiloo-wiloo!".
Tutut lagi: "Hidup Soeharto! ".
Rakyat setempat: "Wiloo-wiloo!".
Tutut: "Hidup Soehartono!"
Rakyat setempat: "Wiloo-wiloo!".
Pidato selesai Tutut turun mimbar dan langsung diantar berkeliling melihat-lihat
desa-desa di dekat sini, untuk memberi kesan baik, ia tidak hanya ingin
mengunjungi hal-hal yang sudah ditata. Suatu kali ia nekad masuk ke sebuah
rumah dan langsung ke halaman belakang untuk melihat bagaimana babi-babi
dikandangkan di tempat itu. Ini membuat cemas Pak Bupati, orang asli, yang
segera mencoba memberi tahu Tutut: "Maaf, Ibu, jangan masuk ke situ. Nanti
kalau Ibu terinjak wiloo-wiloo! Wiloo-wiloo babi itu ada bau sekali, Ibu!"
[ Daftar isi ]
[ Next ]