Ramalan untuk Gubenur
Jateng
[ Previous ]
[ Next ]
Seorang berwajah India mendatangi Gubernur Jawa Tengah waktu beliau
sedang main golf. Kepada Pak Gub, si India berbisik dengan serius, "Saya
berani pastikan sesuatu akan terjadi. Dalam waktu sebulan ini, pantat Bapak
akan pelan-pelan berbentuk beringin dan berwarna kuning."
Pak Gub kaget, mau marah, tapi si India berkata lagi: "Saya bisa meramal,
Bapak, percayalah! Kalau dalam tempo sebulan ini pantat Bapak tidak berubah
jadi berbentuk beringin dan menjadi kuning, saya akan mengaku kalah. Saya
akan bayar Bapak Rp 100 juta."
Gubernur Jawa Tengah yakin, si India akan kalah. "Oke, kita bertaruh
saja! Kalau pantat saya berubah seperti kamu ramal, saya bayar kamu Rp
100 juta. Kalau udak berubah, kamu bayar saya Rp 100 juta!"
"Oke, oke. Kita bertaruh!", jawab di India.
Semenjak itu, setiap pagi, sehabis mandi, sebelum ke kantor, Pak
Gub diam-diam membuka celana dan melihat pantatnya sendiri di cermin.
Mengecek. Dia cemas juga, sebenarnya, jangan-jangan si India benar.
Kadang-kadang dia memang melihat sedikit warna kuning di pantat nya sendiri,
tapi alhamdulillah, bentuk itu pantat masih normal, belum jadi seperti
beringin. Begitulah tiap hari dia bilang alhamdulillah bahwa pantatnya
masih seperti dulu.
Pada akhir bulan, dia datang ke kantor pagi-pagi. Itu lah hari yang
menentukan dia menang atau kalah. Tapi agak kaget juga dia, lantaran di
ruang tunggu tamu pagi-pagi itu si India sudah duduk menanti. Juga agak
heran Pak Gub kita, karena bersama si India ada seorang dengan wajah Cina,
yang kemudian diperkenalkan kepadanya sebagai Bob Hassan.
Si India berbisik kepada Gubenur Jawa Tengah: "Bapak, kita berdua perlu
wasit. Maka saya bawa Si Bob ini bersama saya pagi ini, untuk jadi wasit,
mana di antara kita yang menang. Bapak setuju, ‘kan?"
Pak Gub setuju. Dia bersemangat, karena tadi pagi sebelum berangkat
dia sudah mengadakan pengecekan atas kondisi pantat sendiri, dan tak ada
perubahan yang nampak. Berarti di akan dapat uang.
Tapi kita ceritakan saja dulu bahwa mereka segera masuk ke dalam ruang
duduk Pak Gub. Ajudan disuruh pergi, juga sekretaris. Yang ada di kamar
itu cuma Pak Gub, si India, dan Bob Hasan.
Pak Gub pun naik ke atas meja. "Lihat!", serunya dengan percaya diri
sendiri. "Kalian lihat sendiri bagaimana pantatku!". Dan Pak Gub di atas
meja itu membuka celananya dan diperlihatkannyalah pantatnya kedepan kedua
tamunya.
Si India nampak kecewa. Ia pun berbisik kepada Bob Hassan, yang segera
pergi keluar dari ruangan. Lalu si India berkata kepada Gubernur Kita:
"Bapak yang menang, saya yang kalah, saya bayar Bapak Rp. 100 juta. Kontan!".
Dan dari tas kulitnya dia keluarkan uang bundelan. Setelah dihitung, ada
Rp 100 juta banyaknya.
Pak Gub berwajah sumringah. "Makanya jangan takabur. Sok pinter meramal!"
begitu nasehat dan cemoohnya kepada si India. Lalu dia menyuruh si India
keluar. Segera setelah itu, dia panggil sekretaris dan ajudannya. Dia mau
traktir mereka makan di Hotel Santika dengan uang kemenangan mudah itu.
Tapi dia lihat ajudannya gugup. Ada apa?
Ternyata sang ajudan melihat si India ketawa lebar ketika keluar dari
ruang Pak Gub. "Gue menang!", serunya kepada Bob Hasan yang masih duduk
di ruang tunggu. "Lu harus bayar gue Rp 300 juta!".
Adapun sebelum datang rupanya si India bertaruh dengan Bob Hasan: pagi
itu dia akan bisa membuat Gubernur Jawa Tengah mempertontonkan pantatnya
kepadanya.
[ Daftar isi ]
[ Next ]