Soeharto Bertemu
Rasul Paulus
[ Previous ]
[ Next ]
Pada saat hari penghakiman (kiamat) Rasul Paulus merasa perlu untuk
mewawancara tokoh-tokoh dunia yang pernah melakukan pembunuhan massal,
yaitu Adolf Hitler, Kaisar Nero, Pol Pot dan "the last but not least" Soeharto.
Mereka dikumpulkan di hadapan Rasul Paulus.
"Tahukah Anda sekalian mengapa aku memanggil kalian? Karena aku ingin
mendengar langsung dari kalian, apa yang pernah kalian lakukan terhadap
sesama kalian saat kalian hidup sebagai pemimpin dan berkuasa dahulu,"
ucap Rasul Paulus seraya menambahkan bahwa sebenarnya ia melakukan tugas
wawancara ini atas kehendak Tuhan Yang Maha Esa.
Rasul Paulus mengungkap bahwa dirinya dipilih Tuhan - bukan Rasul Petrus
atau lainnya - untuk mewawancara tokoh-tokoh tersebut, karena ia dan jemaatnya
dahulu adalah korban keganasan/kebiadaban Kaisar Nero yang membunuhi umat
Nasrani dan membakar habis kota Roma.
"Jadi aku minta satu per satu kalian menceritakan segala hal tentang
peristiwa-perisiiwa pembantaian itu," kata Rasul Paulus.
Dasar mantan diktator megalomania, keempat orang itu hampir berebut
untuk menceritakan kisah-kisah yang diminta Rasul Paulus. Terpaksa Rasul
Paulus menengahi. Disepakati urut-urutannya adalah Nero-Hitler-Pol Pot-Soeharto.
Dasarnya adalah periodisasi waktu. Keempat tokoh tersebut menyetujui jalan
ke luar yang diambil Rasul Paulus.
Mulailah Nero bercerita, masih tetap dengan kecongkakan khas seorang
kaisar Romawi. Tidak ada rasa penyesalan meski pun yang berdiri dihadapannya,
Rasul Paulus, merupakan korban kebiadabannya juga.
Setelah Nero, tiba giliran Hitler. Ia mengawali dengan salam khas NAZI.
"Auf Lebensraum!" ucapnya. Menurutnya, ras Arya adalah yang terbaik, jadi
pembantaian 3,5 juta orang Yahudi adalah wajar dan perlu. Bukan karena
ras Arya khawatir dengan kecerdasan orang Yahudi, sehingga dikhawatirkan
dapat menjadi batu sandungan untuk mengembangkan hegemoni ras Arya.
Giliran Pol Pot tiba. Ia membenarkan bahwa "ladang pembantaian" (killing
fields) yang pernah dilakukannya di Kamboja - yang memakan korban lebih
2 juta nyawa. "Hal itu saya lakukan untuk membersihkan bangsa Khmer dari
virus pikiran jahat kaum borjuis kecil, tuan tanah dan bangsawan Khmer,"
ujar Pol Pot.
Rasul Paulus mendengarkan semua cerita dan penjelasan ketiga tokoh tadi
dengan tekun dan diam. "Sekarang giliranmu, Harto," ucap Rasul Paulus.
Seperti biasa, sebelum berpidato atau berbicara, ketika ia masih menjadi
Presiden Indonesia lebih tiga dasawarsa, kali ini pun diawali dengan deheman
khasnya. "Ehem. Terima kasih atas kesempatan yang diberiken daripada Yang
Mulia Rasul kepada saya," katanya mengawali penjelasan yang diberikan.
"Saya tidak aken bercerita panjang lebar seperti anda-anda sekalian.
Anda-anda bercerita dengan rasa bang;ga yang besar di hadapan daripada
Yang Mulia Rasul Paulus seolah-olah andalah yang terhebat dan terbesar
dalam urusan daripada bantai-membantai sesama umat manusia," kata Soeharto
tegas dan lantang.
"Begini saja daripada Yang Mulia Rasul Paulus. Kelebihan daripada Hitler
adalah membunuhi jutaan orang yang kemudian dapat diketahui persis berapa
jumlah korbannya dan berasal dari kamp-kamp konsentrasi mana mayat-mayat
itu berasal. Tapi ia sendiri hingga kini tidak diketahui dimana daripada
kuburnya berada. Hitler masih jadi misteri, jangankan kuburnya, bahkan
apakah ia mati bunuh diri atau tidak semua masih misteri."
"Nero betapa pun hebatnya, para sejarawan berabad-abad kemudian dapat
mengkisahken dan mengungkap sedetil-detilnya daripada peristiwa Roma lautan
api dengan baik. Bahken sudah difilmken toh?"
"Pol Pot. Okelah kelebihannya bahwa ia dapat daripada bersembunyi di
hutan puluhan tahun. Tapi bukankah, ladang pembantaian itu dapat dibongkar
dan diketahui oleh rezim sesudah Pol Pot. Dunia internasional mengetahui
hal itu, dan kalau tidak, salah daripada Yang Mulia, bukankah juga sudah
difilmken oleh sutradara Amerika yang orangnya juga ada disini," jelas
Soeharto.
Ketiga tokoh yang merasa dilecehkan itu menjadi tidak sabar, secara
serempak mereka bertanya. "Lalu apa kelebihanmu Harto?" tanya mereka hampir
bersamaan.
"Kalian mati atau menghilang boleh secara misterius, tapi korban-korban
kalian kan kemudian dapat diketahui kuburnya atau keberadaannya. Kalau
saya Yang Mulia, bukanlah saya yang jadi misterius, tapi korban-korban
inilah yang jadi misterius tidak jelas daripada dimana jasadnya berada
dan dengan cara apa dan bagaimana mereka dilenyapkan!" kata Soeharto seraya
membeberkan berbagai peristiwa lenyapnya korban yang tetap misteri hingga
hari penghakiman (kiamat) itu seperti kasus G-30-S, Tanjung Priok, Gunung
Balak, Peristiwa Lampung, Penembakan Misterius (Petrus), Penumpasan GPK
di Aceh-Timtim-Irian Peristiwa 27 Juli.
Sekonyong-konyong, Soeharto mendekat Rasul Paulus, lalu berbisik, "Omong-omong,
kalau daripada Yang Mulia sepakat, tolong sampaikan ke Boss Besar (yang
dimaksud Soeharto adalah Tuhan YME), bahwa saya bisa membantu beliau untuk
memberi tip cara melenyapkan manusia-manusia terhukum di hari kiamat ini!"
[ Daftar isi ]
[ Next ]